Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

[CERPEN] BELAJAR MEMBATIK

Gambar
  “Aduh! Bagaimana nih, Lia? Aku gak bisa!” teriak Nana sambil membawa kain berwarna putih polos dan pensil ke arah Lia. “Nana, kamu kan belum menggambar pola untuk batik, kenapa kamu jadi bingung?” balas Lia yang sedang membuat pola untuk batik. “Iya, sih, aku belum buat polanya, tapi, ajari aku buat, ya? Plis!” “Huh.” Lia menghela napas. “Nana gak bisa buat polanya?” balas Lia agak heran. “Betul. Ada dua alasan aku gak bisa. Pertama, aku bingung mau duduk di mana dan kedya gambarku jelek. Aku gak percaya diri.” jelas Nana dengan nada yang lebih tenang. “Oh begitu. Kalau masalah tempat duduk, kamu bisa duduk di sini.” jawab Lia menunjuk satu tempat kosong di sampingnya. Nana tampak menghela napas lega. “Tapi, Lia, bukannya itu tempat Rahma, ya?” tanya Nana mencoba mengingat-ingat posisi duduk. “Ah, tidak apa. Rahma sudah duduk di barisan depan. Kalau soal gambar, kamu bisa menyalin pola yang sudah ada, Na.” Terang Lia lagi. “Oh, begitu. Oke, deh.” sahut Nana mulai ...

[SAAT KITA CERITA NANTI] MENGHITUNG POHON-POHON

Gambar
  “Kita akan ke kota, tapi lewat jalan yang belum pernah kau lewati, ya.” Katamu tanpa melirik ke arah spion motor. Kamu memilih fokus pada jalan. Iya aku tahu, seorang pengendara sepeda motor jangan diganggu ketika sedang menyetir, bisa-bisa terjadi hal-hal merugikan. “Tenang, kita tetap lewat jalan raya.” Katamu lagi sedikit menenangkan. Motor matik kesayanganmu terus melaju. Udara panas yang ditimbulkan karena sinar matahari lebih terik dari biasanya.  “Kamu tak akan menemukan pohon subur dan lebat di sepanjang jalan ini.” Katamu melirik kearah spion. Aku menggeleng untuk tidak percaya. Mana mungkin di jalan raya utama yang sebagai jalur utama transportasi darat tak ada pohon yang tumbuh subur sedikit pun? Kamu pasti berbohong! Pikirku. Nahas, sanggahanku telah kamu tebak dengan mudah melalui helaan napas panjang yang terdengar sangat resah. “Kalau tidak percaya kamu amati saja.” Ucapmu tak lama kemudian. Aku terdiam. Kamu selalu saja seperti itu. Mengetahui hal-hal yang se...

[SAAT KITA CERITA NANTI] MENGHITUNG POHON

Gambar
Jalan mana yang berhasil membuatmu berpikir lama? Aku beri pilihan; jalan yang di kanan dan kirinya terdapat banyak gedung bertingkat, jalan yang di kanan kirinya banyak tumbuhan liar alias hutan, jalan yang di kanan kirinya adalah pemukiman dan ruko-ruko, jalan yang kanan kirinya dipenuhi lapangan luas tak berhuni, jalan yang kanan kirinya di penuhi pemukiman tanpa satu pun tumbuhan hijau yang tumbuh di sana, atau kamu ingin menyebutkan versimu? Aku tak akan membatasimu untuk berpikir mengenai ini, hanya saja, akan kulanjutkan cerita, dengarkan dahulu, selanjutnya kamu boleh bercerita padaku. Apa saja, silakan. Bagiku dari banyak pilihan yang kusebutkan yang paling berhasil membuat berpikir lama bahkan bercabang sampai masa depan adalah jalan yang kanan kirinya di penuhi pemukiman tanpa satu pun tumbuhan hijau yang tumbuh di sana. Aku tahu, dalam benakmu kini, kamu melemparkan berjuta tanya padaku. Sebentar, kita hela napas dahulu. Setiap hari, bisa dikatakan aku selalu melintasi jala...

[SAAT KITA CERITA NANTI] 2025 SEGERA BERAKHIR! BAGAIMANA DENGAN WISHLIST?

Gambar
  Akhir Desember 2024, aku sengaja mengusahakan diri untuk terjaga. Ada keinginan melihat kembang api pergantian tahun dari samping rumah. Benar saja, apa yang kuusahakan malam menjelang dini hari itu tersampai. Aku tidak memejamkan mata sampai jam menunjuk angka satu. Berbatasan langsung dengan tambak-tambak ikan dan beberapa pohon bakau yang mati-matian bertahan, aku mulai menatap sekeliling. Gelap. Wajar saja, karena memang tambak-tambak ikan tidak memiliki penerangan, kecuali yang dekat dengan jalan desa. Jauh di seberang, rumah-rumah terlihat berderetan, satu mustaka masjid tampak lebih tinggi, dan hanya saja menyisakan lampu-lampu satu atau dua yang menyala selain lampu jalanan. Hujan sejak jam sepuluh malam berangsur reda. Malam pergantian tahun mulai terasa. Aku memikirkan apa saja yang akan kulakukan di tahun dua-ribu-dua-lima nanti. Besok banget? Haha. Paling menikmati liburan seusai merampungkan tulisan-tulisan itu . Aku harus mencari ide lagi untuk materi tulisan. ...

[SAAT KITA CERITA NANTI] MENEPI DI MINIMARKET DAN SEPERANGKAT OBROLAN ACAK

Gambar
  Sore itu, aku bersama seorang teman memilih duduk di emperan minimarket. Bukan karena telah melakukan perjalanan panjang menempuh jalan pantura, tetapi, cukup lelah berinteraksi di dalam Ventura yang ternyata menemui cukup banyak persona. Aku terkekeh sembari melihat ke seberang jalan. Gerobak bertuliskan cilok, cilor, dan batagor . “Bagaimana kalau tambah beli jajan itu?” tanyaku.  Na, sapaan samaran yang sengaja kutulis di sini, melihat ke arahku, lalu tersenyum, “Kamu bisa baca pikiranku, Kak?” Aku tertawa, “Emang apa isi pikiranmu?” tanyaku penasaran. “Sepertinya kalo ditambah beli jajan itu, enak.” Kami tertawa lagi. “Cilor lima-ribuan , dua, ya, Mas.” Selanjutnya, sudah bisa ditebak sedikit. Kami kembali menepi, memilih duduk di emperan minimarket seperti yang kutulis di paragraf pembuka cerita kali ini, menunggu kiriman cilor matang, memperhatikan orang-orang lalu lalang di depan sekaligus jalan raya yang ada tak jauh dari hadapan kami. Sepasang mataku sesekali meliha...

[SAAT KITA CERITA NANTI] 2021

Gambar
Apakah ada yang kangen tulisanku? Haha, duh, percaya diri sekali, ya. Aku juga tidak tahu, sejak awal menulis sampai saat ini membiasakan menulis, apakah ada orang yang menunggu atau senang dengan tulisanku? Haha, entahlah. Aku tidak tahu. Selain itu, juga kurang ngeh . Parahhh. Tapi, aku senang jika ada yang membaca tulisanku. Entah, bagaimana respon mereka, aku akan tetap senang. Terima kasih, ya, sudah membaca tulisan yang aku rasa absurd itu. Hehe. Hampir dua tahun atau mendekati dua tahun, aku jarang menulis, terutama cerpen. Kalau tidak salah, aku memutuskan untuk mengurangi menulis cerpen sejak kesibukan di semester enam sampai saat ini. Wkwk. Lama sekali, ya? Sebenarnya juga ada rasa kangen untuk kembali menulis cerpen, tapi, tidak memungkinkan juga jika aku kembali menulis cerpen dengan keadaan seperti itu. Sebagai siasat agar tetap menulis, beberapa kawanku di Komunitas Pura-Pura Penyair, memberi saran dan 'memaksa' untuk tetap menulis, minimal puisi. Tidak perlu ban...

[CERPEN] POHON-POHON YANG BERISI KISAHMU

Gambar
  “Bakamu?” tanyaku sedikit terkejut. Kamu mengangguk. “Untuk apa, Vin?” tanyaku lagi. Kamu menatap ke arah lainnya. Kulihat pandanganmu jatuh tepat di taman Fakultas Ilmu Sosial yang penuh dengan pepohonan, tak jauh dari kursi panjang tempat kita duduk. “Agar tidak abrasi.” balasmu singkat lalu melihat kearahku dan tersenyum. Angin berembus perlahan, membuat kerudung yang kamu kenakan berkibar pelan. Aku menghela napas panjang. “Ikut volunteer lagi?” tanyaku padamu, “bukannya kamu lebih suka menjadi volunteer di acara yang diadakan di kota ketimbang seperti itu?” sambungku lagi. Kamu malah tersenyum. Tak jauh dari kursi panjang, daun-daun berguguran dan angin kembali berembus perlahan. Vina, perempuan yang kukenal secara tak sengaja diriuhnya Festival Kota Lama pagi itu. Saat itu ia tampil cerdas dengan materi sejarah yang dibawakan. Dari Marabunta, Marba, sampai barang-barang antik yang dipamerkan dalam gedung sewaktu pameran. Aku kagum. Saat itu juga sesuatu yang berbeda...

[CERPEN] HUJAN YANG MEMILIH JATUH DI MATA KAMI

Gambar
  Air hujan jatuh berdesakan, berdutun-duyun, dan bergerombol dari langit. Butirnya tak terhingga. Namun, memilih jatuh tepat di mata kami. *** Deg! Tiba-tiba ingatan itu kembali berputar. Tentang luka yang menjalar menjadi kesakitan bersama. Ingatan pahit yang tak ingin terulang lagi. Hujan di luar masih bertahan. Deras. Padahal dalam kalender klimatologi, bulan sudah memasuki musim kemarau. Ah, tidak, seharusnya kemarau sudah datang dua minggu yang lalu. Aku memilih berdiam di dalam rumah, mengurung diri di kamar, dan tak lupa untuk mengunci rapat-rapat. Bukan karena tidak ingin berbicara dengan orang lain, tetapi aku lakukan untuk menjaga diri; dari luka yang belum sembuh. Hujan masih bertahan, sedangkan dalam kepalaku masih riuh dengan perdebatan. Riuh sekali. Pembelaan atas diri yang tidak penting. Mereka saling berdesakan dan memarahiku. “Tidak! Aku tidak takut dengan hal itu!” elakku pada diri. Nahas, hujan di luar semakin deras, sederas pendapat dan pengelak...

[ESAI] MEMBACA BUKU SEBAGAI TEMAN MENGENAL DIRI

Gambar
  "There is no friend as loyal as a book."  —Ernest Hemingway Satu paket buku yang masih terbungkus kertas warna merah dengan tulisan berbahasa Inggris. Ernest Hemingway . Aku sering mendengar nama itu, namun, belum berkesempatan untuk membaca karya-karyanya. Perlahan tapi pasti, satu paket buku itu kubuka. Aku tidak tega jika harus merobek kertas pembungkus tersebut secara sembarangan. Aku ingin menyimpan per bagian ini! Kalimat dalam bahasa Inggris itu terus kuulang. There is no friend as loyal as a book. Pikiranku menjadi berlarian, memunculkan beberapa pertanyaan. Mengapa Ernest Hemingway menulis kalimat itu? Apa sebab-sebab dia menuliskan itu? Seperti apa kehidupannya? Keluarga atau lingkungan pertemanan? Bagaimana dengan kesedihan yang dialaminya? Kekecewaan atau kesenangan? Apakah jadwal sehari-harinya padat atau melamun sepanjang hari? Apakah dia menulis? Tentu saja dia menulis! Lalu buku-buku apa yang sudah dibaca sepanjang hidupnya? Ah, kepalaku. Aku bergegas mem...