[Saat Kita Cerita Nanti] Doa-doa yang Dibawa Ibu
Sepasang mataku masih sibuk menyimak sorot mata seseorang di hadapan. Sesekali pula menatap bagian-bagian lain yang ada di sekitar seperti langit biru yang tertutup dedaunan pohon-pohon, rumput-rumput di taman, lumut-lumut yang menempel di dinding, rangkaian usuk yang menyangga genting-genting, atau orang-orang yang lalu-lalang berjalan di trotoar. “Menurutmu doa ibu itu seperti apa, Mbak?” tanyanya sembari melihatku. Aku melihatnya sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Sepasang mataku seperti melihat dari kanan ke kiri, lalu kiri ke kanan, sesekali menyipit. Aku memikirkan alasan apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang terdengar sederhana itu. Sederhana? Begitu, kah? Alasan logis serta imajiner apa yang akan keluar dari mulutku yang sedari tadi hanya merespon, oh, lalu, begitu kah, terus, gimana tuh . Belum ada kalimat panjang sebagai respon, sampai ujung lidah hanya mengeluarkan, “Kalau menurutmu sendiri gimana, Sa?” Kepalaku sepertinya masih mencerna banyak hal ten...