Postingan

[Saat Kita Cerita Nanti] Malam Pergantian Tahun dan Aku Memilih Tidur

Gambar
November lalu, aku menulis tentang momen pergantian tahun 2024 ke 2025. Aku benar-benar bisa terjaga sampai jarum jam menunjuk angka satu. Suatu hal yang jarang sekali kulakukan kecuali ada tugas yang harus dikerjakan secepatnya. Menjelang akhir Desember, aku tidak punya rencana apa-apa.  Wishlist-wishlist  yang ada di kepalaku juga masih sama. Berubah sedikit, sih. Tapi, perihal terjaga sampai pergantian hari sepertinya nihil. Aku tak punya semangat apa-apa selain ingin segera merebahkan tubuh di kasur. Aku sempat memikirkan, “Secapek apa hidupku sampai keinginan tidur lebih cepat dari apapun?” Pertanyaan yang lucu. Sebelum tidur sempat terlintas, hal-hal apa yang sudah kulakukan dalam satu tahun. Banyak dan tidak banyak. Berarti dan tidak berarti. Ah, seketika ingat wejangan Mas Adjie Santosoputro untuk mengurangi hal-hal labeling pada diri yang datang dan pergi, seperti emosi positif dan negatif. Aku memikirkan ulang, sepertinya cukup banyak dari tahun-tahun yang lalu, dar...

Refleksi dari Pesan Singkat di Hari Perempuan

Gambar
Saat hendak mematikan data internet, satu pesan masuk melalui aplikasi Instagram. Aku cukup terkejut, terlebih melihat siapa pengirim pesan tersebut. Salah seorang rekan atau lebih tepatnya mentor fellowship pertengahan tahun lalu.  "Selamat merayakan dan memaknai hari perempuan, Amal. Semoga hal-hal baik terus tumbuh melingkupi hidup begitu pun dengan mekarnya keadilan di setiap hari-hari yang dijelang, ya!" Aku membacanya pelan dan berulang kali. Memastikan lagi apakah pesan itu benar-benar untukku, atau memang ada kekeliruan, tapi ada namaku di sana. Rasanya speechless , aku tidak bisa berkata-kata. Aku terharu sambil memikirkan, "Masih ada, ya, orang yang menyampaikan pesan seperti ini. Baik sekali."  Seusai membaca lagi dengan kondisi lebih tenang, aku merasa seperti dipukpuk. Lega sekali. Aku sadar, ucapan-ucapan semacam itu memang jarang sekali kudapatkan. Kalau diingat-ingat lagi, tentang ucap-mengucapkan atau mengingat suatu perayaan adalah mengucapkan ula...

[Cerpen] Sepasang Mata Kota untuk Mbak Rena

Gambar
  Mata kita bertautan pandang. Menjelma kata yang tak sempat bersuara. Jatuh pada buku-buku yang sedang kita baca. *** Aku baru melihatnya lagi setelah satu bulan berlalu tanpa kabar. Seorang perempuan yang menunggu di tangga menuju taman. Di bagian lain, kendaraan bermotor lalu-lalang tanpa henti. Sesekali aku melihat mereka menatap perempuan itu terheran-heran. Beberapa pengendara yang sengaja menoleh ke Perempuan itu, lama sekali. Tin! Klakson antar kendaraan bermotor saling bersahutan. Lampu sein kanan-kiri dari mobil, motor, hingga lambaian tangan pun tak terhindarkan di jalan raya ini. Aku masih setia di posisiku, pedestrian seberang taman, sembari memperhatikannya dari kejauhan. Seberang jalan tempatku berdiri, ada minimarket yang cukup ramai. Beberapa orang memang sengaja memarkirkan motor atau mobil kesayangan di situ, padahal lokasinya tidak terlalu luas. Demikian pula denganku yang masih memilih menunggu lampu berganti merah untuk kembali melanjutkan mengamen d...