Postingan

[Cerpen] Sepasang Mata Kota untuk Mbak Rena

Gambar
  Mata kita bertautan pandang. Menjelma kata yang tak sempat bersuara. Jatuh pada buku-buku yang sedang kita baca. *** Aku baru melihatnya lagi setelah satu bulan berlalu tanpa kabar. Seorang perempuan yang menunggu di tangga menuju taman. Di bagian lain, kendaraan bermotor lalu-lalang tanpa henti. Sesekali aku melihat mereka menatap perempuan itu terheran-heran. Beberapa pengendara yang sengaja menoleh ke Perempuan itu, lama sekali. Tin! Klakson antar kendaraan bermotor saling bersahutan. Lampu sein kanan-kiri dari mobil, motor, hingga lambaian tangan pun tak terhindarkan di jalan raya ini. Aku masih setia di posisiku, pedestrian seberang taman, sembari memperhatikannya dari kejauhan. Seberang jalan tempatku berdiri, ada minimarket yang cukup ramai. Beberapa orang memang sengaja memarkirkan motor atau mobil kesayangan di situ, padahal lokasinya tidak terlalu luas. Demikian pula denganku yang masih memilih menunggu lampu berganti merah untuk kembali melanjutkan mengamen d...

[Saat Kita Cerita Nanti] Grounding dan Ingatan-ingatan Masa Kecil

Gambar
Seusai menutup 99 Wisdom karya Gobin Vasdev di tahun 2023, beberapa hal yang pernah terlewati dari masa lampau muncul ke permukaan secara perlahan. Bukan terkait pengalaman menyakitkan atau traumatis, namun, lebih ke ingatan-ingatan yang pernah dilakukan di masa anak-anak. Misalnya hujan-hujanan dan nyeker. Kamu pernah melakukannya juga? Aku ingat terkhusus bagian itu. Di tahun-tahun yang beban hanya memikirkan nilai matematika, aku sering bermain tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker. Halaman rumah juga cukup luas untuk menampung pasir-pasir, tanah-tanah, rumput-rumput sebagai pijakan. Satu sudut dekat tembok tinggi tumbuh bunga-bunga nusa indah. Cukup menyenangkan sebagai arena bermain-main. Kaki-kakiku yang tanpa menggunakan sandal saat itu juga tak merasakan sakit. Bahkan, ketika mengambah kerikil-kerikil dan batu-batuan. Cukup lama sekali setelah kebiasaan masa kecil itu berlalu. Aku tidak pernah melakukannya. Namun, kapan lalu, diingatkan lagi untuk mencoba dengan sengaja. Te...

[CERPEN] BELAJAR MEMBATIK

Gambar
  “Aduh! Bagaimana nih, Lia? Aku gak bisa!” teriak Nana sambil membawa kain berwarna putih polos dan pensil ke arah Lia. “Nana, kamu kan belum menggambar pola untuk batik, kenapa kamu jadi bingung?” balas Lia yang sedang membuat pola untuk batik. “Iya, sih, aku belum buat polanya, tapi, ajari aku buat, ya? Plis!” “Huh.” Lia menghela napas. “Nana gak bisa buat polanya?” balas Lia agak heran. “Betul. Ada dua alasan aku gak bisa. Pertama, aku bingung mau duduk di mana dan kedya gambarku jelek. Aku gak percaya diri.” jelas Nana dengan nada yang lebih tenang. “Oh begitu. Kalau masalah tempat duduk, kamu bisa duduk di sini.” jawab Lia menunjuk satu tempat kosong di sampingnya. Nana tampak menghela napas lega. “Tapi, Lia, bukannya itu tempat Rahma, ya?” tanya Nana mencoba mengingat-ingat posisi duduk. “Ah, tidak apa. Rahma sudah duduk di barisan depan. Kalau soal gambar, kamu bisa menyalin pola yang sudah ada, Na.” Terang Lia lagi. “Oh, begitu. Oke, deh.” sahut Nana mulai ...