Postingan

[Saat Kita Cerita Nanti] Hal-hal Kecil untuk Saling Menjaga Kewarasan

Gambar
Selepas membaca utas yang ditulis oleh seorang psikolog tentang stres yang terjadi karena ulah rezim, opini publik yang mengacaukan, dan kelelahan kolektif yang dirasakan warga. Aku merasa diriku yang terlambat dalam berbagai hal termasuk pekerjaan, merasa sedikit bisa bernapas. Pasalnya, aku menganggap diriku remeh dan tertinggal dari orang-orang yang lebih dulu bisa berada di posisi A, B, C, dan seterusnya. Sedangkan yang terjadi padaku saat ini masih di sini saja. Sadar telah tertinggal jauh, bahkan untuk mengejar target ini itu diusia yang lebih dari dua-lima tahun terasa berat dan mustahil. Aku merasa tidak berharga. Kalau ditanya, “Usia dua-lima tahun sudah jadi apa?” Aku akan lebih memilih menepi dan tidak menjawab pertanyaan itu. Aku tidak ingin menjawab atau berdebat tentang apa-apa yang belum bisa kuraih hanya karena saran-saran dari mereka dikira belum pernah kucoba. Aku mencobanya berulang kali, tapi kesempatan belum terbuka. Aku hanya mengatakan pada diriku, betapa menyed...

[Saat Kita Cerita Nanti] Doa-doa yang Dibawa Ibu

Gambar
Sepasang mataku masih sibuk menyimak sorot mata seseorang di hadapan. Sesekali pula menatap bagian-bagian lain yang ada di sekitar seperti langit biru yang tertutup dedaunan pohon-pohon, rumput-rumput di taman, lumut-lumut yang menempel di dinding, rangkaian usuk yang menyangga genting-genting, atau orang-orang yang lalu-lalang berjalan di trotoar. “Menurutmu doa ibu itu seperti apa, Mbak?” tanyanya sembari melihatku. Aku melihatnya sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Sepasang mataku seperti melihat dari kanan ke kiri, lalu kiri ke kanan, sesekali menyipit. Aku memikirkan alasan apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang terdengar sederhana itu. Sederhana? Begitu, kah? Alasan logis serta imajiner apa yang akan keluar dari mulutku yang sedari tadi hanya merespon, oh, lalu, begitu kah, terus, gimana tuh . Belum ada kalimat panjang sebagai respon, sampai ujung lidah hanya mengeluarkan, “Kalau menurutmu sendiri gimana, Sa?” Kepalaku sepertinya masih mencerna banyak hal ten...

[Saat Kita Cerita Nanti] Malam Pergantian Tahun dan Aku Memilih Tidur

Gambar
November lalu, aku menulis tentang momen pergantian tahun 2024 ke 2025. Aku benar-benar bisa terjaga sampai jarum jam menunjuk angka satu. Suatu hal yang jarang sekali kulakukan kecuali ada tugas yang harus dikerjakan secepatnya. Menjelang akhir Desember, aku tidak punya rencana apa-apa.  Wishlist-wishlist  yang ada di kepalaku juga masih sama. Berubah sedikit, sih. Tapi, perihal terjaga sampai pergantian hari sepertinya nihil. Aku tak punya semangat apa-apa selain ingin segera merebahkan tubuh di kasur. Aku sempat memikirkan, “Secapek apa hidupku sampai keinginan tidur lebih cepat dari apapun?” Pertanyaan yang lucu. Sebelum tidur sempat terlintas, hal-hal apa yang sudah kulakukan dalam satu tahun. Banyak dan tidak banyak. Berarti dan tidak berarti. Ah, seketika ingat wejangan Mas Adjie Santosoputro untuk mengurangi hal-hal labeling pada diri yang datang dan pergi, seperti emosi positif dan negatif. Aku memikirkan ulang, sepertinya cukup banyak dari tahun-tahun yang lalu, dar...