[SAAT KITA CERITA NANTI] MENEPI DI MINIMARKET DAN SEPERANGKAT OBROLAN ACAK

 

Sore itu, aku bersama seorang teman memilih duduk di emperan minimarket. Bukan karena telah melakukan perjalanan panjang menempuh jalan pantura, tetapi, cukup lelah berinteraksi di dalam Ventura yang ternyata menemui cukup banyak persona.

Aku terkekeh sembari melihat ke seberang jalan. Gerobak bertuliskan cilok, cilor, dan batagor. “Bagaimana kalau tambah beli jajan itu?” tanyaku. 

Na, sapaan samaran yang sengaja kutulis di sini, melihat ke arahku, lalu tersenyum, “Kamu bisa baca pikiranku, Kak?” Aku tertawa, “Emang apa isi pikiranmu?” tanyaku penasaran. “Sepertinya kalo ditambah beli jajan itu, enak.” Kami tertawa lagi.

“Cilor lima-ribuan, dua, ya, Mas.”

Selanjutnya, sudah bisa ditebak sedikit. Kami kembali menepi, memilih duduk di emperan minimarket seperti yang kutulis di paragraf pembuka cerita kali ini, menunggu kiriman cilor matang, memperhatikan orang-orang lalu lalang di depan sekaligus jalan raya yang ada tak jauh dari hadapan kami. Sepasang mataku sesekali melihat ke sebelah kiri, dua laki-laki yang kupikir seusiaku sedang membicarakan kamera. Tebakanku, mereka juga sedang bertransaksi gear!

“Kak, makasih, ya. Aku bisa mengambil jeda di sini. Merecharge energi.” Kata Na dengan tersenyum.

Aku sedikit terkejut dengan pengakuan Na, namun, hal tersebut segera kusingkirkan. “Sama-sama, aku juga perlu ambil jeda setelah tadi ketemu banyak orang.” Lagi-lagi kami tertawa.

Tanpa menunggu lama, pesanan cilor sampai ke tangan. Kami cukup lahap memakan jajanan khas anak sekolah dasar itu. Kami melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.

Sore itu, aku seperti kembali membuka ruang di masa lampau yang belum selesai, atau lebih tepatnya melengkapi puzzle yang masing-masing belum tertata. Tidak bermaksud untuk segera diisi, tetapi, di waktu-waktu tertentu ia seolah datang untuk mengisi, memberi, membuka kembali, belajar lagi dan lagi.

Sambil makan cilor perlahan, obrolan-obrolan kami makin acak. Orang-orang yang melintasi jalan raya di seberang makin ramai, maklum sudah di jam pulang kerja. Sinar matahari sore kala itu juga cukup hangat. Kalau meminjam ungkapan Na, katanya, “Tone mataharinya mirip dengan hasil foto dari kamera tadi, Kak.”

Obrolan-obrolan acak memang tidak tentu arah. Semula membicarakan apa, kemudian disahut cerita yang lain. Begitu saja terus, sampai masing-masing dari aku dan Na, mungkin saja merefleksikan beberapa hal.

“Na, jadi kepikiran kalau tahun lalu aku menerima sesuatu, mungkin kita gak ketemu di sini atau tidak sama sekali. Tapi, jalan bawa aku ke sini dan kita ketemu, sekelompok, dan ngobrol hal ini di sini. Takdir lucu, ya? Haha.” Kami tertawa.

Na, lalu melanjutkan cerita versinya. Aku menyimak, sesekali mengangguk, atau merespon singkat sebagai tanda sedang benar-benar kuperhatikan. Begitu juga dengan Na dengan caranya memperhatikan dan merespon. 

“Nah, iya, bener!” atau sesekali tawa kami yang cukup nyaring memenuhi pinggiran minimarket. Orang-orang yang lalu-lalang hanya akan sadar sepersekian detik, sisanya sibuk dengan kepala masing-masing.

“Bukan gagal, Kak, hanya saja belum waktunya.”

“Apa ini bentuk menenangkan? Haha.”

“Haha. Tidak juga. Bukan karena gak boleh, bukan juga gagal, tapi, tunggu dulu.”

“Tuhan mempersiapkan itu.”

“Iya, semacam memberi kita kesempatan lagi.”

Kami terkekeh.

“Menguji keyakinan kita?”

“Tentu!”

Lagi-lagi kami tertawa. Cilor dalam kantong plastik telah tandas. Pikiranku melesat lagi, membaca ulang percakapan-percakapan acak yang baru saja berlalu sekian detik. Bukan gagal, hanya belum waktunya, dan perihal keyakinan-keyakinan pada Tuhan.

Belum atau tidak tersampai pada target dan tujuan, bukan berarti gagal menurut versimu atau anggapan orang lain. Hanya saja, Tuhan memberikan (lagi) versi-Nya, sekaligus melihat keyakinan dan kepercayaanmu pada-Nya. Berulang kali.

Komentar