[SAAT KITA CERITA NANTI] MENGHITUNG POHON


Jalan mana yang berhasil membuatmu berpikir lama? Aku beri pilihan; jalan yang di kanan dan kirinya terdapat banyak gedung bertingkat, jalan yang di kanan kirinya banyak tumbuhan liar alias hutan, jalan yang di kanan kirinya adalah pemukiman dan ruko-ruko, jalan yang kanan kirinya dipenuhi lapangan luas tak berhuni, jalan yang kanan kirinya di penuhi pemukiman tanpa satu pun tumbuhan hijau yang tumbuh di sana, atau kamu ingin menyebutkan versimu? Aku tak akan membatasimu untuk berpikir mengenai ini, hanya saja, akan kulanjutkan cerita, dengarkan dahulu, selanjutnya kamu boleh bercerita padaku. Apa saja, silakan.

Bagiku dari banyak pilihan yang kusebutkan yang paling berhasil membuat berpikir lama bahkan bercabang sampai masa depan adalah jalan yang kanan kirinya di penuhi pemukiman tanpa satu pun tumbuhan hijau yang tumbuh di sana. Aku tahu, dalam benakmu kini, kamu melemparkan berjuta tanya padaku. Sebentar, kita hela napas dahulu.

Setiap hari, bisa dikatakan aku selalu melintasi jalanan menuju kota, jalanan yang selalu padat dengan kendaraan dan terbiasa dengan kemacetan. Lalu, dengan banyaknya kendaraan yang melintas tentu asap-asap yang keluar dari kendaraan itu juga semakin banyak, sekaligus menciptakan kepulan hitam yang bercampur dengan oksigen yang kita hirup. 

Sewaktu SMP, salah seorang guru pernah berkata, “Salah satu pohon yang bisa digunakan untuk mengurangi polusi udara yang ada di jalanan adalah menanam pohon trambesi. Sayangnya, di sepanjang jalan yang kita lalui itu pohon trambesi sudah sulit ditemukan.”

Berbicara mengenai pohon, seperti kataku di awal, jalanan dipenuhi kendaraan bermotor; berbagai jenis, lalu rumah-rumah berdiri berdekatan dengan jalan raya, lahan kosong untuk menanam hangus untuk pertokoan dan angkringan. 

Lalu aku menyadari, sepanjang jalan yang kulalui untuk menuju kota tak tampak sebatang pohon yang tumbuh subur, hanya rumput-rumput liar yang sering diinjak kaki-kaki sengaja dan tak sengaja. Di lain hari lagi, aku menyadari, pohon-pohon yang tumbuh di kiri dan kanan jalan tak ubahnya sebatang pohon tanpa dedaunan, hanya ranting dan rapuhnya. Di kemudian hari, niat dari lubuk hati muncul, walau sekadar menghitung berapa pohon hijau yang tumbuh di atas jalan kemacetan.

Komentar