[CERPEN] HUJAN YANG MEMILIH JATUH DI MATA KAMI
Air hujan jatuh berdesakan, berdutun-duyun,
dan bergerombol dari langit. Butirnya tak terhingga. Namun, memilih jatuh tepat
di mata kami.
***
Deg!
Tiba-tiba ingatan itu kembali berputar.
Tentang luka yang menjalar menjadi kesakitan bersama. Ingatan pahit yang tak
ingin terulang lagi.
Hujan di luar masih bertahan. Deras. Padahal
dalam kalender klimatologi, bulan sudah memasuki musim kemarau. Ah, tidak,
seharusnya kemarau sudah datang dua minggu yang lalu.
Aku memilih berdiam di dalam rumah, mengurung
diri di kamar, dan tak lupa untuk mengunci rapat-rapat. Bukan karena tidak
ingin berbicara dengan orang lain, tetapi aku lakukan untuk menjaga diri; dari
luka yang belum sembuh.
Hujan masih bertahan, sedangkan dalam kepalaku
masih riuh dengan perdebatan. Riuh sekali. Pembelaan atas diri yang tidak
penting. Mereka saling berdesakan dan memarahiku.
“Tidak! Aku tidak takut dengan hal itu!”
elakku pada diri.
Nahas, hujan di luar semakin deras, sederas
pendapat dan pengelakkan yang terus menghujaniku. Oh, sungguh, ini sangat
melelahkan.
***
“Aku akan bekerja,” ujar perempuan berkulit
sawo matang, orang-orang memanggilnya dengan Rus, “ke luar negeri untuk
menyambung hidup.” Lanjut Rus tanpa menatap seseorang yang duduk di sampingnya.
“Sampeyan bisa bekerja di sini, jangan pergi ke
sana, Rus,” balas wanita yang duduk tak jauh dari Rus, “bahaya, Rus,” cegahnya.
Berbeda dengan Rus, rambut hitam wanita di hadapannya telah memudar.
“Tidak, Mak. Aku akan tetap pergi.” kata Rus mantap.
Ruangan tidak begitu luas yang hanya menyimpan
perabot-perabot seadanya seketika hening. Angin perlahan berembus mencari celah
memasuki rumah. Tidak ada yang berkata-kata.
“Bapak sudah wafat, Mak, sedangkan di rumah
masih ada adik-adik yang harus melanjutkan sekolah,” jelas Rus, “bekerja di
sini tanpa ijazah adalah hal yang menyulitkan. Apalagi aku hanya tamatan
sekolah dasar. Mana mungkin bisa menghidupi keluarga, Mak?” lanjut Rus lagi
seolah bertanya, tetapi wanita beruban yang tak lain adalah seorang ibu yang
telah melahirkan Rus dan adik-adiknya masih terdiam.
“Jualan gorengan tidak bisa dijadikan
pekerjaan selamanya, Mak. Kita untung sedikit dan tidak bisa menabung.” balas
Rus, “aku tahu, almarhum bapak selalu mengingatkan untuk selalu bersyukur dan
merasa cukup, tetapi, bukankah setiap orang diharuskan untuk selalu berusaha
lebih untuk kehidupan yang baik, Mak? InsyaAllah halal, Mak,” kata Rus lagi
penuh keyakinan.
Satu per satu air mata berjatuhan, mencumbui
tanah, ranting, dahan, genting, dan apapun yang tak beratap. Angin berembus
lebih kencang dari biasanya, masuk ke rumah-rumah yang dindingnya tidak lagi
rapat. Hawa dingin merasuk dalam rumah Rus, sekaligus rumah dalam
dirinya. Di luar sana, tetesan tetesan air yang jatuh dari langit menjadi latar
percakapan keduanya, iringan alam yang mengharu-biru.
“Mak,” lirih Rus lagi.
Wanita paruh baya yang duduk di sampingnya
terdiam. Kedua bola mata menatap hal lain, sesuatu yang tidak berbentuk. Hanya mamak
dan Tuhan saja yang tahu.
“Aku akan tetap pergi, Mak,” kata Rus lagi
melihat ke arah Mak, “aku ingin kedua adikku bisa melanjutkan lagi ke SMA atau
lebih. Aku sadar ijazah SMP tidak bisa membantu. Aku tak ingin hal itu terjadi
pada adik-adikku, Mak.” jelas Rus lagi. Mata Rus berkaca-kaca. Hujan semakin
deras.
***
Doa-doa yang dirapalkan sepanjang waktu
sepertinya tidak berguna. Hari itu tiba dengan gelap. Langkah meninggalkan
pintu rumah terasa berat. Terlintas ingin berhenti dan berbalik arah, tetapi, Rus
sudah sampai sini. Dia juga tidak bisa menerka, kapan akan kembali bertemu
dan memeluk mamak dalam waktu yang lama.
Rus, perempuan berusia 22 tahun. Seorang
pekerja keras, tak kenal lelah dan gengsi. Apa saja pekerjaan yang ditawarkan
untuknya, selama halal, dia akan menerimanya dengan penuh semangat dan telaten.
Hanya saja pekerjaan demi pekerjaan yang ditawarkan kepadanya tak lebih dari
jualan gorengan, membersihkan rumah ke rumah, atau ikut berkebun di ladang
milik orang kaya, alias serabutan. Upah yang didapat juga sangat jauh dari
layak. Rus tidak bisa menabung untuk masa depannya sendiri.
Ijazah SMP yang dia miliki memang tidak banyak
membantu. Rus sempat protes pada Tuhan tentang hal tersebut. Kalau boleh
meminta, saat pertama kali ditiupkan ruh dalam rahim wanita bernama ibu, aku
ingin hidup di keluarga yang bisa memberinya ijazah SMA. Sayang, hal itu
tidak terjadi dan tidak bisa mengelak. Tuhan mempunyai jalan untuk Rus di
dunia.
Rus, seperti perempuan desa pada umumnya,
tidak banyak bicara dan melawan. Apa-apa akan sendiko dawuh. Hanya saja
semuanya berubah setelah sepeninggal bapak. Rus menjadi perempuan yang berani
melawan, termasuk keinginan mencari pekerjaan di luar.
“Dik, jaga mamak dan adik, ya,” pinta Rus,
lalu memeluk erat perempuan yang tampak lebih muda darinya, “selama di sana, Mbak
akan berusaha mengirim pesan padamu, mamak, dan adik.” Sambung Rus lagi. Kini
sepasang mata menyimpan perih yang lirih. Butiran bening yang memaksa keluar.
“Mbak Rus pulang kapan?” anak kecil dengan
ikat kuncir kuda menghambur dalam dekapan Rus. Dia tidak tahu apa-apa, yang
dibenaknya hanya Mbak Rus akan pergi jauh dan pulang dengan membawa banyak
mainan seperti yang dilihatnya ketika bermain di rumah tetangga. “Jangan lupa
bawa banyak mainan dan cokelat, ya, Mbak.” pinta anak berkuncir kuda yang tak
lain adalah si bungsu. Rus mengangguk.
“Pasti. Tapi, Ndukku harus belajar yang rajin
dan nurut omongan Mamak, ya.” balas Rus dengan tersenyum. Si bungsu mengangguk
mantap dan secepat kilat mengepalkan kedua tangan sembari berteriak, hore!
atas sebuah janji.
“Kamu juga, Nduk, sekarang sebagian tugas
keluarga juga ada di pundakmu, tetapi jangan risaukan soal biaya. Mbak yang
akan mengurus. Kamu cukup belajar lebih giat lagi, siapa tahu bisa sekolah lagi
setelah lulus SMA nanti,” harap Rus pada perempuan yang tujuh tahun lebih muda
di hadapannya. Mereka saling memeluk.
“Mbak jangan lupa untuk selalu berkabar pada
kami, sejauh apapun Mbak Rus melangkah dan jauh dari negeri ini, pulang kembali
ke rumah adalah kenyamanan. Jaga diri dengan baik, ya, Mbak. Ren, Mamak, dan Kiki
selalu mendoakan Mbak Rus.” Perempuan yang menyebut dirinya Ren masih memeluk
erat Rus. Di ujung kedua mata, hampir saja jatuh satu tetes air, sedangkan pada
Ren, berjuta tangkai bunga berduri telah menusuk dadanya. Sakit.
Rus melapas pelukan hangat Ren. Tidak menunggu
waktu lama, Rus menghambur dalam dekapan mamak seperti bocah kecil yang lama
tak bertemu dengan orang tua. Erat sekali. Di hadapan wanita paruh baya itu,
Rus sujud, dicium kedua kaki wanita pemilik rahim terhangat itu. kepala Rus
yang sudah berbalut dengan kerudung ungu pun dielusnya lembut penuh kasih dan
sayang.
“Rus, di mana pun sampeyan, doa-doa yang mamak
panjatkan selalu mengiringi langkahmu, seperti napas yang sampeyan hirup dengan
bebas, Nak.” Mamak membalas pelukan Rus. Dadanya mulai terasa sesak, seperti
tertimpa ratusan batu yang siap menyumbat jalan.
“Jaga sholatmu.
Allah akan selalu bersamamu, Nak.” Mamak mencium kening Rus dengan tenang.
Kening yang di mata mamak masih sama seperti dua puluh dua tahun yang lalu.
Langit kembali kelam, awan kelabu
berdesak-desakan memenuhi atas rumah. Rus keluar diiringi tiga orang yang
sangat berarti baginya. Rus melambaikan tangan. Satu tetes air mata jatuh tepat
di pipinya. Langit juga turut mengantar, dengan air yang jatuh tepat di mata
Rus. Dingin.
***
Hari-hari yang tidak dinantikan perlahan
berlalu. Waktu terus melaju tanpa ampun dan jeda.
Hari itu dengan beratapkan langit yang kelam
serta tetes demi tetes air mata yang berjatuhan dari dua makhluk Tuhan; manusia
dan langit. Kemudian berlalu. Terkadang hujan terasa singkat, tetapi lebih
terasa panjang dan lama. Hingga keduanya hanya bisa berucap melalui air mata.
Perkataan yang dilontarkan Rus sebelum
keberangkatan sebagai bekal penenang bagi mamak dan kedua adiknya tinggal lalu,
seolah lenyap bersamaan dengan hujan deras yang terus menerus turun.
Rus sudah lima tahun di sana. Negeri seberang
jauh di mata. Berjarak banyak negara dan melintasi ribuan mil lautan. Rus
hilang suara, tidak ada komunikasi sejak tahun ketiga.
Tahun pertama Rus rajin memberi kabar,
aktivitas sehari-hari, majikan yang baik, teman baru, serta gaji yang bisa dia
tabung dan kirim ke mamak setiap bulan. Tahun kedua, Rus pindah tempat kerja.
Katanya pekerjaan yang didapat lebih baik bahkan gaji yang didapat juga lebih
dari cukup. Rus bisa memberikan uang lebih banyak ke mamak dari tahun
sebelumnya. Rus senang. Mamak juga gemati, tidak langsung menghabiskan
uang itu, malah memilih menabungkan separuh hasil uang yang diberi Rus. Kelak,
uang tabungan ini akan berguna di masa depan. Pikir mamak dengan dada yang
sedikit sesak.
***
“Mak tahu Sofiyah yang jadi TKW di sana mati.” Pedagang sayur keliling memulai percakapan. Mak memang
berlangganan belanja sayur di pedangang itu, kabar kali ini membuatnya
terkejut. Pedangang sayur ini bagi ibu-ibu di sekitar rumah mamak adalah
penyambung informasi, apa saja berita sampai kabar burung bisa diperoleh secara
cuma-cuma.
“Sofiyah yang seumuran dengan Rus itu?” tanya Mak memastikan.
“Iya, Mak. Aku tahu info ini pas di pasar, kata keluarga,
dia bakal dipulangkan hari ini.”
“Meninggal
karena sakit?” tanya Mak lagi.
Pedagang sayur keliling hanya menggeleng
perlahan, “kalau tidak salah dengar, Sofiyah disiksa majikan, Mak, karena tidak
mau menuruti perintah majikan.”
Mamak menghela napas berat. Kini isi kepalanya
dipenuhi wajah Rus, telinga yang mendengar suara sekaligus tawa Rus, yang terus
berulang-ulang. Mamak bergegas membayar lalu kembali ke rumah dengan hati yang
kembali sesak.
Sudah sejak lama desa tempat tinggal sekaligus
tanah kelahiran Rus adalah desa yang orang-orangnya memilih bekerja di luar
negeri, bukan karena profesional tetapi keterbatasan memenuhi biaya hidup yang
sulit dipenuhi di tanah sendiri. Nahas, sepertinya Sang Maha Pemilik Kekuasaan
belum memihak desa menjadi tanah yang makmur. Ah, tidak, bahkan jauh dari
sejahtera dan layak. Orang-orang yang memilih pergi dari tanah desa dengan
nasib yang berbeda-beda, pulang dengan nama utuh atau tinggal nama.
Rus masih tanpa kabar, sedangkan mamak setiap
hari hanya bisa berdoa dan mendengarkan semua infromasi yang didapat dari
pedagang sayur keliling. Jangan bertanya, di mana televisi di rumah ini, tidak
ada. Televisi termasuk barang mewah dan langka di desa. Segala yang
diperdebatkan di ibukota dari politik, sosial, ekonomi, teknologi, dan agama
tidak diketahui orang-orang di desa ini.
Hujan kembali menjatuhkan air mata, tepat di
mata mamak meneteskan air untuk pertama kali setelah sekian lama menahan sesak
di dada.
***
Hujan masih bertahan. Langit semakin kelam,
awan kelabu berarak-arakan ditiup angin yang membawa dingin, dan memasuki tubuh
menjadi kepingan es. Aku menghela napas panjang. Kulihat lagi keluar, hujan
masih betah. Padahal musim penghujan seharusnya sudah berlalu. Tanpa kusadari
di mataku sendiri sudah berlinangan air mata. Sepasang mataku tidak mau kalah
dengan mata langit yang menumpahkan segala sedih pada bumi.
Aku menangis dalam.
Ingatan-ingatan berputar di kepala,
lalu-lalang dan ramai layaknya jalan raya yang dilintasi kendaraan. Semua jenis
ingatan yang paling menyenangkan sekaligus menyedihkan terlintas jelas di
mataku.
Hujan masih setia. Air-air jatuh tepat di
tanah, menyanyikan lagu hening di antara helai daun dan rerumputan, sedangkan
embusan angin masih bertahan dengan hawa dingin, memaksa masuk dalam tubuh dan
menusuk hati yang seharusnya penuh kehangatan.
Tahun telah lama berganti. Kabar dari Rus di
negeri yang jauh terdengar dari tangan lain yang datang ke rumah. Katanya, Rus
menitipkan ini untuk mamak dan aku. Tertulis Rus dan nama kami, termasuk nama
bapak yang telah dulu pergi ke surga.
Di akhir surat berbunyi, sangat menyayangimu selalu.
Deg!
Aku tidak sanggup
menahan. Air mataku tumpah ruah, menjerit, meronta, dan merasakan apa yang
dirasa Rus. Hujan turun dengan deraian air lebih banyak tepat di rumah kami.
Sepasang bola mata masing-masing dari kami tidak lagi merasakan dingin seperti
Rus.
Rus telah tiada dengan siksaan mata yang tak
utuh.
.png)
Komentar
Posting Komentar