[ESAI] MEMBACA BUKU SEBAGAI TEMAN MENGENAL DIRI

 

"There is no friend as loyal as a book." —Ernest Hemingway

Satu paket buku yang masih terbungkus kertas warna merah dengan tulisan berbahasa Inggris. Ernest Hemingway. Aku sering mendengar nama itu, namun, belum berkesempatan untuk membaca karya-karyanya. Perlahan tapi pasti, satu paket buku itu kubuka. Aku tidak tega jika harus merobek kertas pembungkus tersebut secara sembarangan. Aku ingin menyimpan per bagian ini!

Kalimat dalam bahasa Inggris itu terus kuulang. There is no friend as loyal as a book. Pikiranku menjadi berlarian, memunculkan beberapa pertanyaan. Mengapa Ernest Hemingway menulis kalimat itu? Apa sebab-sebab dia menuliskan itu? Seperti apa kehidupannya? Keluarga atau lingkungan pertemanan? Bagaimana dengan kesedihan yang dialaminya? Kekecewaan atau kesenangan? Apakah jadwal sehari-harinya padat atau melamun sepanjang hari? Apakah dia menulis? Tentu saja dia menulis! Lalu buku-buku apa yang sudah dibaca sepanjang hidupnya? Ah, kepalaku. Aku bergegas memotong kertas berwarna merah itu menjadi persegi dan menyimpan bagian tersebut di dalam kotak give-away. Aku mengiyakan dan sepertinya tahun depan, buku-bukunya harus kubaca!

Seolah seperti membaca pikiran, aku kembali berkelana ke masa lalu. Tentu saja bukan masa lalu perihal Indonesia, itu terlalu tebal jika harus diceritakan di sini. Aku teringat diriku, aku, di tahun itu.

Aku yang punya teman, tidak punya teman, atau punya teman tetapi lebih memilih tidak banyak berbicara. Hari-hari itu berlalu dengan biasa, hanya saja semakin hari proses mendengarkan dan mencoba melihat setiap sudut pandang dari teman yang sering berbicara semakin bertambah. Aku mengamati setiap gerak-gerik dan ucapan-ucapan tersebut.

Pola itu terus berulang. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa bosan yang menyelinap. Aku masih tidak banyak bicara. Namun, di sisi lain, aku malah penasaran dengan isi kepala dari suatu circle yang jarang berbicara dan sering berbicara. Apakah memiliki kesamaan yang berkaitan dengan kesenangan, kesedihan, kecemasan, atau hal-hal lain yang mungkin sulit diungkapkan?

Haha. Aku malah menertawakan diriku. Pertanyaan-pertanyaan yang ingin kuajukan pada Ernest Hemigway sepertinya akan lebih dulu kutanyakan untuk diriku.

Aku mempertanyakan beberapa hal dari cara berelasi dalam satu lingkup kelompok kecil atau circle. Apakah dalam satu circle harus memiliki satu kesamaan? Apa yang membuat antar individu bisa saling terhubung dan terabaikan? Bagaimana dengan ini, itu, dll? Ah, kepalaku, lagi-lagi penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.

Hari itu aku membawa buku, bukan nonfiksi tetapi novel. Aku masih memperhatikan obrolan-obrolan yang saling bersahutan. Namun, beberapa kali sempat terhenti karena kehabisan bahan. Di sela-sela kosong itu, aku sengaja membuka dan kembali melanjutkan membaca novel.

Tidak. Itu bukan tanpa alasan. Seperti pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kepala, aku melakukannya karena teringat beberapa kejadian dalam satu tahun terakhir di tahun tersebut. Aku tidak banyak bicara, tetapi, sesekali menanggapi cerita-cerita dengan pertanyaan atau sahutan sederhana. Namun, siapa sangka respon berbeda. “Kamu lebih baik diam, deh. Soalnya kalau sekali ngomong nyelekit banget.” Tidak satu kali kudengar, tapi, beberapa kali. Mendengar itu rasanya tidak nyaman. Aku tidak bisa menyalahkan respon orang lain.

Perlahan tapi pasti, melalui novel-novel yang kubaca, aku belajar. Siapa tahu melalui obrolan antar tokoh dan narasi-narasi dalam novel membantuku menjadi orang yang lebih peka dan memiliki empati. Aku mencoba dan terus membaca.

Tahun-tahun itu telah berlalu, sangat jauh. Aku sudah berdiri lagi di tahun ini dengan sesuatu yang berbeda. Aku dengan penuh kesadaran, tahun-tahun itu memang tahun penuh pelajaran, bahkan sampai hari ini, dan seterusnya. Aku bertemu banyak orang lengkap dengan karakteristik dan perilaku. Aku mendengar banyak obrolan dan candaan dengan beragam respon. Ah, manusia, benar-benar unik.

Aku tidak hanya membaca novel-novel, tetapi bertambah ke nonfiksi berbagai genre. Aku mencoba mengenal diriku lagi, lebih dalam. Pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan emosi-emosi yang ada dalam diriku. Seberapa ruwet, jauh, panjang, dan dalam, atau sepi, kosong, dan hampa pada proses kembali mengenal diri sendiri. Melalui buku-buku, aku melakukan itu. Proses yang tidak singkat, cukup rumit, sekaligus menyenangkan.

Aku seperti membaca isi kepala dari para penulis buku. Penulis-penulis itu memiliki keresahan masing-masing dan mengolah menjadi sesuatu yang mungkin tidak lagi rumit atau bertambah rumit. Orang-orang yang membaca pasti akan belajar.

Ada banyak hal yang tidak terduga. Aku teringat akan teori gunung es dari Sigmund Freud, bahwa pikiran manusia diibaratkan gunung es, yang mana bagian atas yang terlihat adalah pikiran sadar (conscious mind), sedangkan di bawah pikiran sadar terdapat bagian prasadar (subconscious mind), dan bagian terbesar dari gunung es yang berada di bawah permukaan adalah bagian pikiran tak sadar (unconscious mind).

Setiap perjalanan, apapun itu, setiap orang yang belajar mengenal dan memahami diri, selalu memiliki porsi dan jatah berbeda-beda dengan yang lain. Ada yang memerlukan waktu singkat dan bahkan memakan waktu lama. Setidaknya sudah berusaha dan konsisten menyediakan waktu untuk bertanya, membaca, dan memahami apa saja yang ada dalam diri.

Aku kembali mengingat bahwa orang lain tidak akan memahami seperti apa diri, orang lain hanya akan menilai. Sesungguhnya, diri sendiri yang tahu dan paham akan hal tersebut. Menyadari untuk selalu berproses, terus belajar memahami, membaca, bertanya, merenung, dan memulai percakapan dengan diri, pasti akan menemukan sesuatu yang berbeda, dari kebahagiaan, kesedihan, ataupun penerimaan-penerimaan emosi baik positif maupun negatif, peristiwa bahkan pengalaman-pengalaman dari masa lampau.

Jika tidak melalui hari-hari di tahun-tahun itu, mungkin aku tidak akan belajar banyak hal. Kini, aku mulai memberanikan diri untuk terus percaya diri, berani berbicara dan bercerita, mendengarkan cerita orang-orang dengan khidmat, merespon dengan bijak, serta memberi kesempatan pada setiap orang untuk bercerita dengan dan tanpa keraguan.

Aku juga tidak perlu lagi memperdebatkan perihal siapa yang lebih sering membaca buku, genre apa saja yang sudah dibaca, dan tidak perlu juga membahas berada diurutan berapa kota dan negara tempat tinggal. Toh, membaca sudah menjadi kegemaran dan teman sejak lama, kan?

Aku percaya itu, walaupun dalam proses membaca tidak mudah. Ada banyak hal yang telah diperjuangkan dan perhitungkan. Ada uang yang harus ditabung, bagi-bagi dengan keperluan lain, dan berpuasa berhari-hari untuk sekadar membeli satu buku. Namun, semua itu terbayarkan ketika buku-buku incaran sudah dalam pelukan.

Pertanyaan-pertanyaan itu masih tetap menjadi pertanyaan. Proses per proses itu masih tetap proses bertumbuh. Tidak harus bertemu jawaban sempurna hari ini, tidak harus mekar hari ini, tetapi, kapan saja, sewaktu-waktu, dan terus berjalan. Terima kasih untuk aku, kamu, dan setiap orang yang sudah berusaha mengenal diri lagi melewati salah satu jalan bernama membaca buku-buku.


Komentar