[CERPEN] POHON-POHON YANG BERISI KISAHMU

 

“Bakamu?” tanyaku sedikit terkejut. Kamu mengangguk. “Untuk apa, Vin?” tanyaku lagi. Kamu menatap ke arah lainnya. Kulihat pandanganmu jatuh tepat di taman Fakultas Ilmu Sosial yang penuh dengan pepohonan, tak jauh dari kursi panjang tempat kita duduk.

“Agar tidak abrasi.” balasmu singkat lalu melihat kearahku dan tersenyum. Angin berembus perlahan, membuat kerudung yang kamu kenakan berkibar pelan. Aku menghela napas panjang.

“Ikut volunteer lagi?” tanyaku padamu, “bukannya kamu lebih suka menjadi volunteer di acara yang diadakan di kota ketimbang seperti itu?” sambungku lagi. Kamu malah tersenyum. Tak jauh dari kursi panjang, daun-daun berguguran dan angin kembali berembus perlahan.

Vina, perempuan yang kukenal secara tak sengaja diriuhnya Festival Kota Lama pagi itu. Saat itu ia tampil cerdas dengan materi sejarah yang dibawakan. Dari Marabunta, Marba, sampai barang-barang antik yang dipamerkan dalam gedung sewaktu pameran. Aku kagum. Saat itu juga sesuatu yang berbeda mulai tumbuh, di sini.

Ah, Tuhan memang Maha Baik. Hari berikutnya dengan segala keberanian yang ada, aku mendekati, berkenalan, dan berbicara banyak hal dengannya. Oktavina Saraswati, seorang mahasiswi sosiologi dan ternyata satu kampus denganku. Penasarannya terhadap dunia luar terutama kemasyarakatan membuatnya memilih Sosiologi sebagai disiplin ilmu yang dipelajari, karena dari sosiologi juga, Vina sering terjun ke lapangan untuk melakukan mini riset atau sekadar kujungan himpunan ke komunitas. Lambat laun, ia mengenal volunteer. Relawan di acara-acara besar atau yang sering diadakan komunitas di kota dan pesisir. Ia bergabung. Satu per satu kegiatan ia ikuti dan kecanduan.

“Akhir-akhir ini aku tertarik dengan sejarah. Makanya aku ikut mendaftar sebagai volunteer acara ini. Lumayan bisa ketemu sejarawan, sastrawan, pegiat literasi, sosial, komunitas-komunitas, dan…”

“Aku! Haha.” balasku dibarengi dengan menunjuk diri sendiri. Kamu tersenyum lebar, lalu tertawa memandang siapa saja yang lewat di hadapan kita. Pun denganku; tertawa memandangmu.

***

Perahu melaju perlahan, memecah keheningan di antara rimbun pepohonan bakamu. Lima orang termasuk nahkoda perahu ini sibuk dengan kegiatan masing-masing. Setelah membayar ongkos perjalanan. Belum ada percakapan lagi selain suara air yang bergesekan dengan kayu dan burung-burung yang betengger di pepohonan. Kami menikmati perjalanan.

“Kenapa di sini lagi? Kita bisa ke kafe atau restoran terdekat.” kataku hari itu. Kamu hanya menggeleng. “Baiklah.” balasku lalu duduk di kursi panjang tak jauh darimu. Pilihanmu adalah taman Fakultas Ilmu Sosial.

“Selalu bikin adem, meneduhkan, dan segar.” ucapmu menatap rimbunnya dedaunan di atas kita. Aku menatapnya, melihat dengan seksama rimbun pepohonan yang kamu maksud.

“Di atas kita adalah pohon kersen, di sana ada pohon mangga, lalu ketapang. Terus di atasnya dedaunan itu langit biru yang membentang luas. Ditambah embusan angin yang nggak terlalu kencang. Sempurna banget, Za.” Jelasmu menunjuk satu per satu. Aku mengangguk.

“Eh mirip miniatur hutan, ya? Hehe.” sahutku. Kamu tertawa lalu mengangguk.

“Makanya aku suka banget kalau lihat taman yang banyak pohonnya atau sepanjang jalan kota ditumbuhi banyak pohon.” balasmu. Aku megangguk setuju. “Eh tapi kalau di pesisir itu pohon apa saja yang tumbuh? Gak mungkin mangga bisa tumbuh subur di sana. Iya, mungkin ada, tapi beda? Sepertinya harus ikut kegiatan di pesisir deh, Za.” Kami saling tatap, lagi-lagi tersenyum lebar. Iya, kami harus menjadi relawan di salah satu komunitas pecinta lingkungan wilayah pesisir Pulau Jawa untuk melihat dan merasakan secara langsung.

“Za, jangan melamun, hampir sampai.” Suara seorang laki-laki membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng keras. Kulihat kanan kiri kami masih pepohonan bakau yang rimbun. Orang-orang menyebut sekumpulan bakau adalah hutan mangrove. “Nanti kita jalan kaki dulu sebelum sampai di lokasinya. Lewatin pantai juga. Santai, gak bakal menyesal, kok.” lanjutnya. Kami mengangguk paham.

Kami berhenti di bangunan yang menyerupai jembatan kayu yang panjang dengan kanan kiri ditumbuhi pohon-pohon bakau yang menjulang tinggi. Tak lama, rombongan perahu lainnya tiba. Kami kembali melangkah memasuki hutan mangrove, semakin masuk semakin lebat. Di tangan-tangan kami juga penuh dengan propagul dan tunas bakau, bakal pohon bakau.

“Seperti menanam pohon di tanah. Namamu sudah kutanam jauh-jauh hari di ingatan. Setiap hari dengan telaten, selalu kusiram, agar lusa atau kapan kah itu, ia tumbuh seperti pohon yang lebat dan rindang. Ia tumbuh. Mulai menampakkan satu daun. Artinya, ada satu kisah yang mulai tertulis tentu tentangmu. Lain hari, daun-daun mulai tumbuh hijau. Artinya semakin hari semakin banyak daun-daun yang bercerita tentangmu.

“Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan seterusnya, pohon yang berasal dari namamu tumbuh besar, lebat, dan rindang. Namun, beberapa helai daun yang berasal dari kisahmu jatuh ke tanah. Lalu berubah warna kecokelatan dan melebur dengan tanah, tumbuh lagi dalam akar pohon-pohon. Kisah-kisahmu pun abadi.” katamu hari itu usai percakapan panjang kita.

“Daun-daun berjatuhan, bertemu tanah, dan abadi.” lirihmu lagi dan tersenyum.

Aku tahu kamu berpuisi tentang pohon. Kamu tahu, bagiku bukti kecintaanmu pada lingkungan menjadi salah satu hal yang semakin membuatku mengagumimu, lebih.

Beberapa helai daun bakau jatuh, melesat menuju jembatan kayu, bahkan tenggelam. Puisimu kembali terulang seolah kamu membacakannya lagi untukku. “Kita belum bisa melakukan hal yang besar untuk ini. Tapi, setidaknya hal kecil yang kita lakukan sekarang, semoga bisa bermanfaat di masa mendatang.” katamu lagi. Aku tersenyum.

Vin, hari ini adalah hari bumi, bertepatan dengan harimu untuk operasi. Sebelumnya kamu tidak pernah bercerita denganku mengenai sakit yang kamu derita. Kamu terlalu sibuk dengan kegiatan. Kamu menyukai itu, katamu dengan bertemu banyak orang adalah memperpanjang usia.

Surat itu sudah kuterima dan kubaca berulang kali. Kamu menyuruhku untuk tetap pergi ke tempat ini dan menanam bibit bakau, daripada harus menunggu di koridor ruang operasimu penuh cemas. Katamu lagi, Vin, kamu akan hadir juga di tempat ini, menjelma angin yang berembus dan rindang pepohonan. Seperti senyummu, ia juga meneduhkan.

Komentar