Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

[CERPEN] BELAJAR MEMBATIK

Gambar
  “Aduh! Bagaimana nih, Lia? Aku gak bisa!” teriak Nana sambil membawa kain berwarna putih polos dan pensil ke arah Lia. “Nana, kamu kan belum menggambar pola untuk batik, kenapa kamu jadi bingung?” balas Lia yang sedang membuat pola untuk batik. “Iya, sih, aku belum buat polanya, tapi, ajari aku buat, ya? Plis!” “Huh.” Lia menghela napas. “Nana gak bisa buat polanya?” balas Lia agak heran. “Betul. Ada dua alasan aku gak bisa. Pertama, aku bingung mau duduk di mana dan kedya gambarku jelek. Aku gak percaya diri.” jelas Nana dengan nada yang lebih tenang. “Oh begitu. Kalau masalah tempat duduk, kamu bisa duduk di sini.” jawab Lia menunjuk satu tempat kosong di sampingnya. Nana tampak menghela napas lega. “Tapi, Lia, bukannya itu tempat Rahma, ya?” tanya Nana mencoba mengingat-ingat posisi duduk. “Ah, tidak apa. Rahma sudah duduk di barisan depan. Kalau soal gambar, kamu bisa menyalin pola yang sudah ada, Na.” Terang Lia lagi. “Oh, begitu. Oke, deh.” sahut Nana mulai ...

[CERPEN] POHON-POHON YANG BERISI KISAHMU

Gambar
  “Bakamu?” tanyaku sedikit terkejut. Kamu mengangguk. “Untuk apa, Vin?” tanyaku lagi. Kamu menatap ke arah lainnya. Kulihat pandanganmu jatuh tepat di taman Fakultas Ilmu Sosial yang penuh dengan pepohonan, tak jauh dari kursi panjang tempat kita duduk. “Agar tidak abrasi.” balasmu singkat lalu melihat kearahku dan tersenyum. Angin berembus perlahan, membuat kerudung yang kamu kenakan berkibar pelan. Aku menghela napas panjang. “Ikut volunteer lagi?” tanyaku padamu, “bukannya kamu lebih suka menjadi volunteer di acara yang diadakan di kota ketimbang seperti itu?” sambungku lagi. Kamu malah tersenyum. Tak jauh dari kursi panjang, daun-daun berguguran dan angin kembali berembus perlahan. Vina, perempuan yang kukenal secara tak sengaja diriuhnya Festival Kota Lama pagi itu. Saat itu ia tampil cerdas dengan materi sejarah yang dibawakan. Dari Marabunta, Marba, sampai barang-barang antik yang dipamerkan dalam gedung sewaktu pameran. Aku kagum. Saat itu juga sesuatu yang berbeda...

[CERPEN] HUJAN YANG MEMILIH JATUH DI MATA KAMI

Gambar
  Air hujan jatuh berdesakan, berdutun-duyun, dan bergerombol dari langit. Butirnya tak terhingga. Namun, memilih jatuh tepat di mata kami. *** Deg! Tiba-tiba ingatan itu kembali berputar. Tentang luka yang menjalar menjadi kesakitan bersama. Ingatan pahit yang tak ingin terulang lagi. Hujan di luar masih bertahan. Deras. Padahal dalam kalender klimatologi, bulan sudah memasuki musim kemarau. Ah, tidak, seharusnya kemarau sudah datang dua minggu yang lalu. Aku memilih berdiam di dalam rumah, mengurung diri di kamar, dan tak lupa untuk mengunci rapat-rapat. Bukan karena tidak ingin berbicara dengan orang lain, tetapi aku lakukan untuk menjaga diri; dari luka yang belum sembuh. Hujan masih bertahan, sedangkan dalam kepalaku masih riuh dengan perdebatan. Riuh sekali. Pembelaan atas diri yang tidak penting. Mereka saling berdesakan dan memarahiku. “Tidak! Aku tidak takut dengan hal itu!” elakku pada diri. Nahas, hujan di luar semakin deras, sederas pendapat dan pengelak...

[CERPEN] AKTIVITAS PONSEL BAGUS SORE INI

Gambar
  Saya ingat yang ramai dibicarakan orang-orang dalam media sosial setahun terakhir, tentang ponsel berkamera bulat yang mirip dengan kamera sungguhan. Orang-orang menginginkan ponsel itu, mereka berbondong-bondong membeli bahkan rela meminjam uang ke orang tak dikenal. Saya takjub sekali sekaligus bertanya-tanya, sebagus apa kamera dari ponsel itu? Saya kira pertanyaan dalam kepala hanya itu saja, tetapi, pertanyaan-pertanyaan lain perlahan muncul di atas kepala. Ponsel berkamera bulat seperti kamera sungguhan itu apakah benar akan menghasilkan foto bagus sekaligus? Saya tidak percaya. Toh, pasalnya saya mendapati beberapa komentar teman dari media sosial yang mengatakan, mereka tidak percaya diri memotret dengan ponsel sekalipun dengan ponsel berkamera bulat seperti kamera betulan itu. Saya jadi kebingungan, pendapat yang manakah yang benar? Saya tidak tahu. *** Ada ponsel berkamera bulat seperti kamera sungguhan tergeletak di meja panjang ruang tamu. Saya melihat-lihat sek...

[BUKU] SUARA HATI TENTANG MASA LALU

Gambar
KUMPULAN CERPEN SUARA HATI TENTANG MASA LALU Judul: Suara Hati Tentang Masa Lalu Penuis: Amaliya Khamdanah Penerbit: Teman Nulis Publisher (@ temannulis.id ) Tebal: 123 halaman Ukuran: 14 x 21cm ISBN: 9786239047023 Harga: Rp. 55.000 Alhamdulillah, akhirnya cerpen-cerpen yang kutulis sejak 2016 sampai 2018 ini terbit. Suara Hati Tentang Masa Lalu adalah salah satu judul cerpen yang ada dalam antologi cerpen ini. Sengaja saja mengambil judul ini karena memang dari beberapa cerpen yang ditulis sejak 2016 sampai 2018 mengambil masa lalu sebagai benang merahnya. "Lagu ini belum selesai, lirik ini hanya awalan ceritaku dan tak akan berakhir walau jaringan terputus. Aku hanya ingin menghubungkan kegembiraan bocah-bocah tanpa dosa padamu, agar kau sedikit belajar dari masa laluku." --Suara Hati Tentang Masa Lalu, 2017. Untuk yang ingin tahu cerita lainnya dalam antologi cerpen, bisa pesan langsung bisa melalui DM ke Instagram @ tema...

[CERPEN] I(NYONG)

Gambar
I(NYONG) *** Matamu bulat sempurna dan hitam pekat. Kau tak pernah tersenyum, bahkan tak pernah kulihat kau menangis. Yang kutahu, kau selalu menampakkan ekspresi tanpa dosa—seperti bayi—walau pun terkadang kedua bola matamu menatapku tajam. Ah apa pedulinya aku! “Bu! Nyong ngikuti aku terus!” teriakku ketika menuju dapur.  Ibu hanya tersenyum melihatku, tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya. “Bu?” aku mendekat kearahnya. “Ambil saja tahu goreng itu, Nyong akan diam dan tak mengganggumu.” ujar ibu yang masih sibuk dengan penggorengan. Dengan langkah cepat, aku menuju tempat yang dimaksudkan ibu; meja makan dengan banyak piring dan gorengan di dalamnya; tahu, tempe, mendoan, dan bakwan. “Nyong kemarilah!” teriakku. *** Taringmu tajam, pun pada sorotan matamu juga tak kalah tajamnya. Kuyakin siapa pun yang berhasil menatapmu atau tanpa sengaja melihat matamu saat itu akan ketakutan. Memilih mundur dan berlari menjauh, dengan harap cemas agar kau tak...