[SAAT KITA CERITA NANTI] 2025 SEGERA BERAKHIR! BAGAIMANA DENGAN WISHLIST?

 


Akhir Desember 2024, aku sengaja mengusahakan diri untuk terjaga. Ada keinginan melihat kembang api pergantian tahun dari samping rumah. Benar saja, apa yang kuusahakan malam menjelang dini hari itu tersampai. Aku tidak memejamkan mata sampai jam menunjuk angka satu.

Berbatasan langsung dengan tambak-tambak ikan dan beberapa pohon bakau yang mati-matian bertahan, aku mulai menatap sekeliling. Gelap. Wajar saja, karena memang tambak-tambak ikan tidak memiliki penerangan, kecuali yang dekat dengan jalan desa. Jauh di seberang, rumah-rumah terlihat berderetan, satu mustaka masjid tampak lebih tinggi, dan hanya saja menyisakan lampu-lampu satu atau dua yang menyala selain lampu jalanan. Hujan sejak jam sepuluh malam berangsur reda.

Malam pergantian tahun mulai terasa. Aku memikirkan apa saja yang akan kulakukan di tahun dua-ribu-dua-lima nanti. Besok banget? Haha. Paling menikmati liburan seusai merampungkan tulisan-tulisan itu. Aku harus mencari ide lagi untuk materi tulisan. Mau seperti apa, ya?

Jam benar-benar menunjuk angka dua belas, pergantian hari! Aku masih terjaga dan bengong di jendela, melihat samping rumah yang penuh air, pohon-pohon bakau, dan rumah-rumah berjejeran di seberang. Langit malam semakin gelap. Tapi, kembang api yang menyala di langit-langit malam seolah membuat semakin terang, seperti bunga yang sedang bermekaran.

Aku melihat jam di ponsel. Benar-benar berganti, dari 2024 ke 2025. Apa rencanaku tahun ini? Ah, sepertinya masih konsisten. Mengusahakan dan terus mendoakan rencana-rencana itu. Tapi, selebihnya, aku ingin menikmati setiap momen, merangkul kecemasan, bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, dan bermain-main di psikologi. Rasanya ingin sekali hidupku yang hanya sekali ini bisa memberikan atau berkontribusi di bidang kemanusiaan melalui psikologi. Lucu, ya?

Aku ingat, saat itu juga ada informasi terkait lowongan sebagai relawan di salah satu komunitas perempuan cukup besar di Indonesia. Aku sudah cukup lama mengikuti dan menyimak beberapa konten terkait. Perempuan, anak, dan psikologi. Ah, semoga.

Aku melihat ponsel lagi. Mendekati jam satu pagi. Aku belum tidur? Haha. Ternyata tidur jam satu dinihari tidak semenakutkan itu. Ternyata lagi, melihat kembang api di samping rumah juga tidak kalah meriah. Tidak perlu tambahan lain. Aku menikmati pancaran menyala di langit-langit malam dan pantulan sinar di permukaan air yang gelap.

Ini sudah November, kurang satu bulan lagi menuju dua-ribu-dua-enam. Bagaimana dengan wishlist-wishlist itu?

Komentar