[CERPEN] AKTIVITAS PONSEL BAGUS SORE INI

 

Saya ingat yang ramai dibicarakan orang-orang dalam media sosial setahun terakhir, tentang ponsel berkamera bulat yang mirip dengan kamera sungguhan. Orang-orang menginginkan ponsel itu, mereka berbondong-bondong membeli bahkan rela meminjam uang ke orang tak dikenal. Saya takjub sekali sekaligus bertanya-tanya, sebagus apa kamera dari ponsel itu?

Saya kira pertanyaan dalam kepala hanya itu saja, tetapi, pertanyaan-pertanyaan lain perlahan muncul di atas kepala. Ponsel berkamera bulat seperti kamera sungguhan itu apakah benar akan menghasilkan foto bagus sekaligus? Saya tidak percaya. Toh, pasalnya saya mendapati beberapa komentar teman dari media sosial yang mengatakan, mereka tidak percaya diri memotret dengan ponsel sekalipun dengan ponsel berkamera bulat seperti kamera betulan itu. Saya jadi kebingungan, pendapat yang manakah yang benar? Saya tidak tahu.

***

Ada ponsel berkamera bulat seperti kamera sungguhan tergeletak di meja panjang ruang tamu. Saya melihat-lihat sekitar, tidak ada orang. Hanya toples-toples terbuka dengan satu dua stik kentang di atas tisu, seperti ditinggalkan begitu saja oleh si pemakan. Cepat-cepat saya menghampiri dan bertanya, “Apakah Anda berkenan ikut saya melihat-lihat sore di atap rumah yang warnanya lagi kelabu tapi ada biru tua, muda, dan keungu-unguan?” Ponsel berkamera bulat seperti kamera sungguhan hanya menampakkan screen meletup-letup seperti kembang api di tahun baru.

“Bagus banget! Ternyata kamu mengerti dan mau diajak melihat langit yang warnanya lebih dari satu, ya,” kata saya, “oh iya, karena terlalu panjang, saya akan memanggil ponsel berkamera bulat seperti kamera sungguhan dengan ponsel bagus.” lanjut saya dan kembali melanjutkan perjalanan menuju atap.

Perjalanan tidak jauh, cukup berjalan sepluh jengkal dari ruang tamu menuju lorong dan menaiki dua-puluh anak tangga kayu menuju atap rumah. Selama perjalanan tidak ada orang-orang yang menyenggol atau hal-hal tidak menyenangkan lain. Sungguh lega hati ini ketika perjalanan melihat warna-warna langit mulus seperti jalan tol. Pikir saya lagi.

Saya tersenyum setelah menginjakkan kaki di atap rumah. Ini sungguh atap, ya, bukan balkon! Tegas saya ketika kamu mengimajinasikan tempat ini seperti balkon dari rumah-rumah orang kaya. Perlu kamu ingat, rumah kami hanya memiliki satu lantai dan atap rumah dari genteng tanpa kerepus. Kalau hujan deras dan angin kencang, hujan pasti ikut berteduh di dalam rumah. Katanya, takut terbawa angin yang bersiul-siul.

Saya masih tersenyum melihat sekitar. Sore ini langit benar-benar penuh warna. Apa yang saya sebut tadi di hadapan ponsel bagus benar-benar kenyataan. Ah tidak, sebelum bertanya pada ponsel bagus, saya sudah memastikan kondisi langit. Makanya saya berani mengajak ponsel bagus berjalan-jalan di atas rumah.

Warnanya ada biru, biru tua, muda, oranye, kekuningan, dan keungu-unguan. Indah sekali. Saya seperti melihat pelukis mencoretkan warna-warna menyenangkan itu ke kanvas. Kolaborasi yang pas! Ah, tidak, warna-warna langit yang menyenangkan benar-benar dari Tuhan. Seketika saya teringat satu bait puisi Usman Arrumy. Ketika memandangmu, aku dapat menjelaskan kepada semesta, mengapa Tuhan mencintai keindahan.

Saya duduk bersila di atas genting, sembari menelangkupkan kedua tangan di dekat dada, seperti meditasi. Tidak, itu terlalu dini. Saya hanya ingin menikmati sore ini lewat warna-warna langit, embusan angin yang melewati telinga, dan suara burung-burung yang beterbangan di atas sana. Kamu pasti sedang membayangkan hal serupa, bukan? Tidak apa, lanjutkan saja. Saya yakin, kamu pasti akan merasakan suasana menyenangkan ini secara langsung, tidak hanya lewat imajinasi.

Awan-awan bergerak dan berarak-arakan. Saya jadi teringat dengan tontonan masa kecil, tentang dongeng domba-domba yang berasal dari gumpalan awan-awan putih. Haha, kalau yang ini benar-benar imajinasi. Saya sudah melihat domba asli sewaktu mendekati hari raya Iduladha. Namun, saya masih meyakini bahwa imajinasi anak-anak memang paling polos dan menyenangkan. Anak-anak tidak mengenal aturan yang membatasi imajinasi dan teori-teorinya.

Ponsel bagus menyala dan kembang api awal tahun baru kembali meletup-letup. Untung tidak bersuara dor-dor! saya bisa kaget dan terjun bebas dari sini. Ada pesan masuk, tetapi tidak saya buka, karena menyadari ponsel bagus saya temukan di meja panjang ruang tamu. Bukan hak saya membuka pesan itu!

Saya melihat sekitar, warna langit yang tidak satu warna masih bertahan. Saya buru-buru menekan lama lambang kamera di pojok kanan bawah, maka akan otomatis menampakkan layar kamera. Tadi duduk dan sekarang berdiri. Saya ingin mendapat sudut pandang yang pas. Lirih saya.

Saya mengarahkan ponsel ke arah langit yang sedang bahagia-bahagianya. Setidaknya saya bisa memperpanjang ingatan warna-warna langit yang seperti reoninan dalam kamera ponsel. Saya menyadari, betapa terbatasnya ingatan manusia, apalagi seperti saya yang termasuk orang yang mudah melupakan.

Sore masih berlangsung. Saya sudah berhenti mengarahkan ponsel bagus ke langit. Saya membantin, ternyata melakukan ini saya bisa kecapaian. Saya kembali duduk bersila.

Mulut saya berkomat-kamit, mendendangkan lagu tidak jelas, semacam dum-dum, nananana, dan lihat kebunku penuh dengan bunga.

Saya terkejut. Ponsel bagus dalam genggaman saya masih dalam fitur kamera. Padahal, seusai berdiri dan kembali duduk, saya sudah mengembalikannya ke dalam mode tidur. Ah, ada apa ini? Saya amati sebentar, tidak ada kembang api yang meletup-letup, berarti tidak ada pesan masuk. Tetapi, apa yang sedang terjadi pada ponsel bagus ini?

Saya kembali berdiri. Tangan kanan saya mengarah pelan ke kanan dan kiri, sedangkan tangan kiri memperbesar dan memperkecil layar. Mendekatkan dan menjauhkan sesuatu. Saya ingat proses ini!

Ponsel bagus memang pandai. Dia tahu arah mana saja yang harus difoto lagi. Langit-langit dan awan-awan yang sudah saya abadikan sebelumnya masih kurang. Makanya ponsel bagus menggerakkan seluruh tenaga untuk membantu saya melihat lebih detail lagi sore ini.

Ohh!

Dari kaki langit yang warnanya keungu-unguan campur abu-abu, biru muda, biru tua, kekuningan sampai keoranyean, lalu kabel-kabel yang memanjang antara sutet dengan sutet lain, dan bulan  yang sudah terlihat jelas di sore hari. Saya hampir lupa, ada deretan pohon bakau yang tumbuh besar di samping rumah dan petak-petak tambak ikan. Ponsel bagus tahu bagaimana memposisikan diri dan mengenali objek baru yang saya sebut. Dia mengarahkan sedikit ke bawah untuk memperlihatkan ranting-ranting dan daun-daun bakau. Saya ingat, ada komposisi framing dalam dunia fotografi.

Saya kembali terkejut ketika ponsel bagus mengarah pada objek-objek minimalis. Saya berseru pada ponsel bagus, “Kamu tidak hanya bagus, tapi bisa baca pikiran!” Saya terkekeh.

Saya ingat-ingat lagi pernah ikut webinar fotografi gratis yang menampilkan foto-foto minimalis. Kata saya saat itu, sederhana banget dan langsung jatuh suka! Saya mengingatnya betul. Saya tidak menyangka kalau sampai hari ini saya benar-benar menyukai aliran foto yang itu dan terbaca jelas oleh ponsel bagus.

Ponsel bagus malah bertanya, “Mengapa Anda suka foto minimalis?” Saya tertohok sedikit. Kok bisa-bisanya ponsel bagus langsung mengajukan pertanyaan kepada saya? Saya tertawa, lalu memandang bulan yang di sebelahnya ada dua burung blekok terbang, seperti mengitari bulan tidak penuh itu.

“Banyak ruang kosong,”

Hah?

Saya kaget. “Jawaban saya tidak memuaskan, ya?” tanya saya. Ponsel bagus masih menimbang-nimbang arah. Objek mana lagi yang akan dibidiknya dengan cepat.

Ponsel bagus terdiam, begitu juga saya. Warna langit mulai biru menyeluruh tapi lebih tua. Saya berdehem pelan. Ponsel bagus tampaknya sudah tidak heboh seperti tadi. Kini dia lebih memilih diam tanpa tenaga.

“Ponselku mana, Dik?!”

Saya terkejut mendengar teriakan itu. Untung tidak jatuh. Saya sadar asal teriakan itu dari beranda rumah. Ah, iya! Saya hampir lupa kalau ponsel bagus yang tergeletak di meja panjang ruang tamu adalah milik kakak yang sedang melepas kangen pada kampung halaman.

“Ponsel bagus, ayo segera kembali ke rumah,” ajak saya. Ponsel bagus setuju.

Saya kembali menuruni anak tangga dari kayu perlahan, tetapi, belum sempat menginjak tanah, ponsel bagus kembali hidup. Berkaca dari pengalaman beberapa menit yang lalu, ponsel bagus sekaligus pintar menemukan objek minimalis favorit saya. Saya menghentikan langkah. Mempersilakan ponsel bagus mengambil dan mengabadikan hal sederhana lagi.

Oh, kali ini permukaan air tambak yang memantulkan langit-langit.

Kakak saya sudah berdiri di depan pintu. Mukanya masam seperti asam. Tentu saja saya langsung minta maaf karena tidak tahu pemilik dari ponsel bagus ini. Kini mukanya datar. Saya bilang kalau ponsel bagusnya memang bagus dan pintar. Dia tersenyum sedikit dan layar ponsel bagus kembali meletup-letup seperti kembang api di tahun baru.

Saya lega bisa main-main dengan ponsel bagus sore. Sepertinya ponsel bagus juga berterima kasih kepada saya karena sudah mengajak jalan-jalan di atap rumah melihat langit sore. Kalau tidak ponsel bagus hanya akan bengong lama di meja panjang ruang tamu.

Saya terdiam memandang langit dari beranda rumah. Warna-warna tadi sudah sempurna hilang berganti biru tua. Saya menutup sore ini dengan senyum mengembang seperti adonan roti yang berhasil.

Eh, tunggu sebentar. Ada yang kurang pas.

Sebenarnya perjalanan sore ini benar-benar ada atau hanya dalam imajinasi saya? Saya memegang ponsel bagus yang kameranya bulat seperti kamera sungguhan dan sangat lihai menemukan foto-foto bagus, arak-arakan awan, warna-warna langit yang bahagia, pohon-pohon yang menjadi bingkai, serta karpet biru dari petak-petak tambak? Saya berpikir keras. Padahal usia saya sudah menginjak seperempat abad.

Komentar