Postingan

[SAAT KITA CERITA NANTI] 2021

Gambar
Apakah ada yang kangen tulisanku? Haha, duh, percaya diri sekali, ya. Aku juga tidak tahu, sejak awal menulis sampai saat ini membiasakan menulis, apakah ada orang yang menunggu atau senang dengan tulisanku? Haha, entahlah. Aku tidak tahu. Selain itu, juga kurang ngeh . Parahhh. Tapi, aku senang jika ada yang membaca tulisanku. Entah, bagaimana respon mereka, aku akan tetap senang. Terima kasih, ya, sudah membaca tulisan yang aku rasa absurd itu. Hehe. Hampir dua tahun atau mendekati dua tahun, aku jarang menulis, terutama cerpen. Kalau tidak salah, aku memutuskan untuk mengurangi menulis cerpen sejak kesibukan di semester enam sampai saat ini. Wkwk. Lama sekali, ya? Sebenarnya juga ada rasa kangen untuk kembali menulis cerpen, tapi, tidak memungkinkan juga jika aku kembali menulis cerpen dengan keadaan seperti itu. Sebagai siasat agar tetap menulis, beberapa kawanku di Komunitas Pura-Pura Penyair, memberi saran dan 'memaksa' untuk tetap menulis, minimal puisi. Tidak perlu ban...

[CERPEN] POHON-POHON YANG BERISI KISAHMU

Gambar
  “Bakamu?” tanyaku sedikit terkejut. Kamu mengangguk. “Untuk apa, Vin?” tanyaku lagi. Kamu menatap ke arah lainnya. Kulihat pandanganmu jatuh tepat di taman Fakultas Ilmu Sosial yang penuh dengan pepohonan, tak jauh dari kursi panjang tempat kita duduk. “Agar tidak abrasi.” balasmu singkat lalu melihat kearahku dan tersenyum. Angin berembus perlahan, membuat kerudung yang kamu kenakan berkibar pelan. Aku menghela napas panjang. “Ikut volunteer lagi?” tanyaku padamu, “bukannya kamu lebih suka menjadi volunteer di acara yang diadakan di kota ketimbang seperti itu?” sambungku lagi. Kamu malah tersenyum. Tak jauh dari kursi panjang, daun-daun berguguran dan angin kembali berembus perlahan. Vina, perempuan yang kukenal secara tak sengaja diriuhnya Festival Kota Lama pagi itu. Saat itu ia tampil cerdas dengan materi sejarah yang dibawakan. Dari Marabunta, Marba, sampai barang-barang antik yang dipamerkan dalam gedung sewaktu pameran. Aku kagum. Saat itu juga sesuatu yang berbeda...

[CERPEN] HUJAN YANG MEMILIH JATUH DI MATA KAMI

Gambar
  Air hujan jatuh berdesakan, berdutun-duyun, dan bergerombol dari langit. Butirnya tak terhingga. Namun, memilih jatuh tepat di mata kami. *** Deg! Tiba-tiba ingatan itu kembali berputar. Tentang luka yang menjalar menjadi kesakitan bersama. Ingatan pahit yang tak ingin terulang lagi. Hujan di luar masih bertahan. Deras. Padahal dalam kalender klimatologi, bulan sudah memasuki musim kemarau. Ah, tidak, seharusnya kemarau sudah datang dua minggu yang lalu. Aku memilih berdiam di dalam rumah, mengurung diri di kamar, dan tak lupa untuk mengunci rapat-rapat. Bukan karena tidak ingin berbicara dengan orang lain, tetapi aku lakukan untuk menjaga diri; dari luka yang belum sembuh. Hujan masih bertahan, sedangkan dalam kepalaku masih riuh dengan perdebatan. Riuh sekali. Pembelaan atas diri yang tidak penting. Mereka saling berdesakan dan memarahiku. “Tidak! Aku tidak takut dengan hal itu!” elakku pada diri. Nahas, hujan di luar semakin deras, sederas pendapat dan pengelak...