[Saat Kita Cerita Nanti] Hal-hal Kecil untuk Saling Menjaga Kewarasan
Selepas membaca utas yang ditulis oleh seorang psikolog tentang stres yang terjadi karena ulah rezim, opini publik yang mengacaukan, dan kelelahan kolektif yang dirasakan warga. Aku merasa diriku yang terlambat dalam berbagai hal termasuk pekerjaan, merasa sedikit bisa bernapas.
Pasalnya, aku menganggap diriku remeh dan tertinggal dari orang-orang yang lebih dulu bisa berada di posisi A, B, C, dan seterusnya. Sedangkan yang terjadi padaku saat ini masih di sini saja. Sadar telah tertinggal jauh, bahkan untuk mengejar target ini itu diusia yang lebih dari dua-lima tahun terasa berat dan mustahil. Aku merasa tidak berharga.
Kalau ditanya, “Usia dua-lima tahun sudah jadi apa?” Aku akan lebih memilih menepi dan tidak menjawab pertanyaan itu. Aku tidak ingin menjawab atau berdebat tentang apa-apa yang belum bisa kuraih hanya karena saran-saran dari mereka dikira belum pernah kucoba. Aku mencobanya berulang kali, tapi kesempatan belum terbuka. Aku hanya mengatakan pada diriku, betapa menyedihkannya ini.
Tidak hanya perihal karir, tentang relasi pertemanan juga semakin menipis. Lagi-lagi, aku sekurang percaya diri itu dalam menjalin relasi dengan teman-teman yang sudah bekerja dan mendapat penghasilan pasti. Aku khawatir mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu lagi, atau paling parahnya dekat dengan mereka dikira ingin meminjam uang, walaupun, aku tidak sampai hati untuk melakukan itu, terlalu berisiko. Paling sangat mungkin adalah aku menutup diri, menutup semua akses, dan hanya memberikan celah tipis, seperlunya. Menyedihkan lagi, kan?
Kalau ditanya lagi, “Apakah tidak kangen dengan relasi pertemanan yang seperti dulu?” Kangen banget, apalagi yang sudah lama terjalin menyenangkan. Tetapi, ada hal-hal itu kuurungkan dan hanya cukup dengan mengenang. Aku tidak lagi ingin memaksa atau yang paling menggenggam erat.
Semakin ke sini, benar-benar terasa. Bingung, cemas, khawatir, bahkan merasa sepi. Ingin sekali tiba-tiba menghubungi teman dan basa-basi seperti beberapa tahun lalu, tetapi kembali urung. Di kepalaku seperti menyusun kalimat penolakan, “Nanti dia mikirnya aku mendekat ketika butuh saja?” Padahal kemungkinan itu juga bisa saja terjadi dan juga berpeluang tidak terjadi. Ah, overthinking ini cukup mengganggu.
Semisal ditanya lagi, “Kan, bisa dengan pacar?” Aku akan memilih merespon dengan tersenyum paling dipaksakan lengkap dengan umpatan yang kuteriakkan paling keras dalam hati, “Opo meneh iki?!” Bagaimana lagi, kegelisahanku tentang apa-apa yang belum tercapai itu malah ditambah pertanyaan lainnya yang jelas-jelas sangat abstrak sekali jika kujawab, selain lisan mengatakan, “Hehe, doakan saja kami lekas bertemu, ya.”
Proses menerima pertanyaan-pertanyaan itu terlalu sering hilir mudik di telinga sampai menempel di bawah sadar memang menjadi kecemasan, apalagi hal-hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan diri tetapi faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Aku hanya bisa melakukan usaha semaksimal mungkin, memfilter atau menyaring hal-hal yang boleh diolah oleh tubuh dan pikiran, berlatih dan belajar kembali, mencoba berbagai peluang, dan berdoa.
Ternyata tidak mudah. Aku perlu menangis berulang kali, merasa kecewa, tidak dianggap, tidak berharga, diremehkan, atau hal-hal lain bermuatan negatif lainnya. Apalagi aku bukan termasuk orang yang mudah bercerita kepada orang lain, bahkan dengan saudara atau teman yang cukup lama saling mengenal. Semacam memiliki banyak lapisan yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang lulus penilaian subjektif. Lucu, ya? Tapi, itu lebih baik daripada tidak menyaring sama sekali.
Aku melakukannya dengan berhati-hati, konsisten, dan sampai saat ini walaupun lingkar pertemanan yang mengecil akan kupastikan itu adalah yang cukup nyaman dan aman. Termasuk cerita-cerita yang kutulis dan kuceritakan secara lisan berulang kali. Akan selalu ingat dan akan kukenang dengan baik.
Suatu momen, dipertemukan dengan seorang teman dan beberapa lainnya. Kami banyak mengobrol dari hal-hal berkaitan dengan isu lingkungan, kriris iklim, kebijakan pemerintah, parenting dalam rumah dan lingkungan, psikologi-psikologian, film yang harus ditonton bersama, sampai hal-hal sepele seperti menu sarapan hari ini atau aktivitas-aktivitas kecil menjelang weekend. Aku terkekeh geli sembari memikirkan, “Ternyata ada manusia lain yang memiliki cara berpikir dan sisi emosional sepertiku, malah lebih berpandangan luas.”
Momen itu menjadi refleksi berulang, “Tuhan masih sangat menyayangiku.” Kalau diingat-ingat lagi, sepasang mataku akan terasa berat dan kebas. Eh, tahu-tahu menangis. Mudah sekali perempuan ‘bungsu’ ini menangis.
Lewat pertemuan-pertemuan kecil secara maya atau nyata yang sengaja dirawat bersama menjadi tumbuh rindang dan teduh, semoga. Salah satu dari kami dan sepertinya sudah menular mengingat baik-baik untuk balance, sama-sama dan saling [aku meminjam tiga kata ini dari seorang teman]; sama-sama sadar kalau dalam relasi ada hubungan timbal balik dalam mengupayakan hadir, mendengar, bercerita, saling mengingatkan untuk mengurangi excited sendirian, saling mengatakan hal-hal kurang nyaman dengan aman, saling mempersilakan untuk memberi ruang menangis dan marah, atau menertawakan masa lalu yang belum belajar sehingga tampak bulol [bucin tolol], sama-sama mengingatkan lagi untuk terus menikmati momen, atau hal-hal kecil lainnya yang semoga memberi dampak.
Aku ingat lagi, disuatu momen menjelang tengah malam, satu pesan kuterima, “Kamu juga, ya. Tetap waras biar bisa saling mengingatkan untuk tetap waras.” Hatiku yang mungil terasa penuh dan hangat.
Aku sengaja tidak menuliskan nama-nama samaran itu di Saat Kita Cerita Nanti bagian ini. Aku rasa, jika mereka membacanya akan langsung memahami, karena telah menjadi bagian dari cerita-cerita dan ingatan-ingatan yang ingin selalu kurawat, dan mungkin saja kami [telaten merawat]. Terima kasih, ya.

Komentar
Posting Komentar