[Saat Kita Cerita Nanti] Malam Pergantian Tahun dan Aku Memilih Tidur
November lalu, aku menulis tentang momen pergantian tahun 2024 ke 2025. Aku benar-benar bisa terjaga sampai jarum jam menunjuk angka satu. Suatu hal yang jarang sekali kulakukan kecuali ada tugas yang harus dikerjakan secepatnya.
Menjelang akhir Desember, aku tidak punya rencana apa-apa. Wishlist-wishlist yang ada di kepalaku juga masih sama. Berubah sedikit, sih. Tapi, perihal terjaga sampai pergantian hari sepertinya nihil. Aku tak punya semangat apa-apa selain ingin segera merebahkan tubuh di kasur. Aku sempat memikirkan, “Secapek apa hidupku sampai keinginan tidur lebih cepat dari apapun?” Pertanyaan yang lucu.
Sebelum tidur sempat terlintas, hal-hal apa yang sudah kulakukan dalam satu tahun. Banyak dan tidak banyak. Berarti dan tidak berarti. Ah, seketika ingat wejangan Mas Adjie Santosoputro untuk mengurangi hal-hal labeling pada diri yang datang dan pergi, seperti emosi positif dan negatif.
Aku memikirkan ulang, sepertinya cukup banyak dari tahun-tahun yang lalu, dari diterima sebagai relawan di bidang psikologi dan lingkungan, ikut turun lapangan ke pesisir dan kampung kota yang berhasil membuatku berani ngomong (lagi) dengan orang-orang dengan beragam latar belakang, tidak hanya mendengarkan suara (atau cerita) tapi juga mencoba memahami melalui bahasa tubuh, ikut tanam mangrove di desa sebelah, ketemu orang-orang lucu yang kebetulan sangat humanis, sampai nangis sesenggukan di bagian-bagian tertentu. Payahnya, dua teman sempat melihatku menangis. Sial, sedikit malu tapi cukup melegakan.
Tahu tidak, kalau keinginan tanam bakau itu udah sejak lama. Tetapi, menyadari bahwa diri terlalu ringkih untuk memulai membuka relasi di komunitas lingkungan, akhirnya memilih memendam. Sampai suatu ketika melalui kelas iklim (fellowship), sepasang kakiku kembali menginjak tanah berlumpur dengan meneteng seikat propagul bakau. Yey! Keinginan lama yang ini, berhasil! Jadi, masih ingin meragukan mimpi-mimpimu, Mal?
Pernyataan sekaligus pertanyaan itu membuatku tertawa dalam hati. Aku bertanya lagi pada diriku, “Bagaimana dengan 2026, ya?” Belum ada jawaban. Aku melihat ponsel, tertulis 22.45. Satu jam lagi pergantian hari. Masih ingin melek atau tidur? Aku belum sempat menjawab pertanyaanku, tetapi lipatan mata telah menutup. Diri, kita rencanakan besok, ya.
.png)
Komentar
Posting Komentar