[Saat Kita Cerita Nanti] Doa-doa yang Dibawa Ibu

Sepasang mataku masih sibuk menyimak sorot mata seseorang di hadapan. Sesekali pula menatap bagian-bagian lain yang ada di sekitar seperti langit biru yang tertutup dedaunan pohon-pohon, rumput-rumput di taman, lumut-lumut yang menempel di dinding, rangkaian usuk yang menyangga genting-genting, atau orang-orang yang lalu-lalang berjalan di trotoar.

“Menurutmu doa ibu itu seperti apa, Mbak?” tanyanya sembari melihatku. Aku melihatnya sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Sepasang mataku seperti melihat dari kanan ke kiri, lalu kiri ke kanan, sesekali menyipit. Aku memikirkan alasan apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang terdengar sederhana itu. Sederhana? Begitu, kah?

Alasan logis serta imajiner apa yang akan keluar dari mulutku yang sedari tadi hanya merespon, oh, lalu, begitu kah, terus, gimana tuh. Belum ada kalimat panjang sebagai respon, sampai ujung lidah hanya mengeluarkan, “Kalau menurutmu sendiri gimana, Sa?”

Kepalaku sepertinya masih mencerna banyak hal tentang pertanyaan itu.   

Sa, lagi-lagi nama sapaan yang kusamarkan, seperti Na dalam ceritaku yang lain. Kali ini aku menunggu jawabannya.

“Paling aku nantikan.”

“Maksudmu?” Aku mengernyitkan dahi.

“Iya, Mbak. Aku pikir salah satu doa yang paling mujarab itu doa ibu,” katanya lagi, “Aku selalu cerita ke ibu tentang apa-apa yang sedang lakukan dan rencanakan. Semacam meminta restu. Doakan aku, ya, Ibu. Nanti ibuku akan bilang dan menyertakan banyak doa. Aku seperti punya kekuatan lebih.” jelas Sa lagi.

Aku masih mendengarkan dan sesekali mengangguk, sembari mengingat-ingat momen mana dalam kehidupanku yang selaras dengan cerita Sa. 

 “Setelah itu, aku akan lebih bersemangat dengan hal-hal yang kukerjakan, melewati semua dengan sepenuh hati, walaupun ada saja hal-hal yang cukup menjengkelkan.” Sa tertawa. Aku juga ikut tertawa.

“Kadang ada hal-hal di luar kendali, walaupun sudah direncanakan matang-matang, Sa.” tambahku.

Sa mengangguk, “Betul, Mbak. Aku juga memahami itu. Nah, dari doa-doa yang dibawa ibuku ke aku seperti itu. Membantuku dibanyak momen bahkan di masa-masa luar rencana.”

Aku mengangguk lagi.

Kepalaku sepertinya mulai menerima banyak perspektif tentang bagian ini, doa-doa yang dibawa ibu. Kanjeng Nabi SAW dalam suatu riwayat juga menyebut, “Ada tiga doa yang tidak tertolak: [1] doa orang tua (kepada anaknya), [2] orang-orang yang berpuasa, [3] doa orang yang sedang safar.”

Aku mengingat diriku, salah satu momen yang cukup krusial dalam hidup di tahun itu. Mengendarai motor keluar rumah dengan tas ransel berisi buku dan laptop. Isi kepala sekaligus kedalaman hati yang tidak terukur itu terus mengulang, “Ya Allah, aku percaya yang kulakukan hari ini adalah bagian dari doa-doaku, doa-doa ibu dan bapak. Aku berani melangkah hari ini untuk mengerjakan dan menyelesaikan semuanya sampai tuntas.”

Bum!

Semua terasa  mudah. Sepanjang perjalanan pulang, aku menangis. Beruntung, saat itu malam telah tiba. Tangisan pecah tidak terbaca oleh orang-orang, lampu-lampu jalan, dan semacamnya. Hanya angin malam yang sepertinya cukup membantu mengeringkan air mata yang jatuh.

Kami kembali terdiam, hanya terdengar suara gesekan antar ranting-ranting pohon, deru mesin pada kendaraan yang melintas di seberang, atau suara melengking dari orang-orang yang sempat lalu-lalang di tempat lain.

“Mbak tahu tidak, aku juga selalu menerapkan mantra ini.” ucapnya lagi.

Aku melihat Sa yang cukup antusias, “Apa itu?”

“Mengawali dengan bismillah, jalani dengan ya Allah, dan akhiri dengan alhamdulillah.”

Aku melongo dan Sa tersenyum. Sepasang matanya seperti bersinar dan cerah sekali. Aku mengulanginya sekali lagi ucapannya. Sa mengangguk mantap. 

“Kapan-kapan boleh kucoba juga mantramu?” tanyaku.

Sa tersenyum lebar, “Tentu saja, Mbak. Semoga memudahkanmu juga.”

Saat menulis seri Saat Kita Cerita Nanti yang ini, aku belum meminta izin Sa secara langsung. Tapi, semoga saja dia tidak marah karena mantranya kutulis di sini. Aku ingin mengingat ucapan-ucapan itu lebih lama dan panjang, agar tidak tertumpuk dengan ingatan-ingatan yang lain, tidak hilang, dan lenyap begitu saja. Semacam mengabadikan bagian penting itu, selamanya.


Komentar