[Cerpen] Sepasang Mata Kota untuk Mbak Rena

 

Mata kita bertautan pandang. Menjelma kata yang tak sempat bersuara. Jatuh pada buku-buku yang sedang kita baca.

***

Aku baru melihatnya lagi setelah satu bulan berlalu tanpa kabar. Seorang perempuan yang menunggu di tangga menuju taman. Di bagian lain, kendaraan bermotor lalu-lalang tanpa henti. Sesekali aku melihat mereka menatap perempuan itu terheran-heran. Beberapa pengendara yang sengaja menoleh ke Perempuan itu, lama sekali.

Tin!

Klakson antar kendaraan bermotor saling bersahutan. Lampu sein kanan-kiri dari mobil, motor, hingga lambaian tangan pun tak terhindarkan di jalan raya ini. Aku masih setia di posisiku, pedestrian seberang taman, sembari memperhatikannya dari kejauhan.

Seberang jalan tempatku berdiri, ada minimarket yang cukup ramai. Beberapa orang memang sengaja memarkirkan motor atau mobil kesayangan di situ, padahal lokasinya tidak terlalu luas. Demikian pula denganku yang masih memilih menunggu lampu berganti merah untuk kembali melanjutkan mengamen di bangjo. Tapi, untuk kali ini, aku masih setia berdiam diri dengan pandangan yang masih sama beberapa menit yang lalu.

“Kau kenapa?” Suaranya sudah tak asing. Aku menggeleng. “Aku tahu, kau pasti memperhatikan perempuan itu, kan?” Lanjutnya, “Eh tunggu, bukankah itu Mbak Rena?” Tebaknya. Aku melolot ke arah sumber suara. Ah iya, perempuan yang tengah duduk di sana adalah Mbak Rena, perempuan yang mengenalkanku pada dunia baca.

“Tapi kok sepi. Di mana yang lain, Za?” Suaranya lagi terdengar penuh tanya. Kali ini pertanyaannya sama seperti yang ada dibenakku.

Aku menggeleng.

***

“Kau dapat buku bergambar itu dari mana?” Tanyaku sedikit mengernyitkan dahi.

Pandanganku jatuh pada buku bergambar binatang yang tengah dipegang bocah perempuan seusiaku.

“Kepo, ya!” Ucapnya lalu berlari tanpa menjawab pertanyaanku.

“Dasar pelit!” Teriakku seiring dengan klakson mobil yang berbunyi nyaring tak jauh dariku.

Aku memilih menepi di trotoar dekat taman. Memandang kendaraan bermotor yang saling berurutan dan berhenti. Lelah sekali sore ini! Pikirku. Sesekali terlihat pengemudi mobil melihat ke arahku dan melengos.

Lampu lalu lintas tak kunjung merah, mobil-mobil pun antre panjang, terlihat juga beberapa motor memilih mencari celah untuk menuju jarak terdekat dengan garis markah jalan yang dekat dengan lampu lalu lintas.

Aku melihat bawaanku sendiri. Koran-koran yang kujajakan sejak pagi hanya berkurang sedikit. Aku menghela napas panjang. Padahal hari kian sore, artinya esok hari berita-berita yang kubawa ini akan basi dan bergeser dengan berita yang baru.

Pandanganku kembali menyapu sekitar. Kali ini lampu lalu lintas telah berganti warna hijau. Mobil-mobil yang sempat antre panjang kini mulai melaju. Para pengendara motor pun tak kalah, mereka juga menaikkan kecepatan agar cepat melintasi lampu lalu lintas di area Mugassari menuju jalan Pandanaran.

Aku masih sama, memperhatikan tanpa bosan jalan raya yang setiap detik dilewati kendaraan bermotor beraneka ragam sampai klakson yang bersahutan. Tanpa henti.

“Aku mau ke sana lagi.” Ucap bocah perempuan seusiaku. Dia kembali lewat di hadapan. Aku terdiam. Sedikit berpikir mengenai apa yang sedang dibicarakan. Bocah perempuan lainnya hanya mengangguk-angguk.

“Mereka baik. Buktinya buku bergambar hewan-hewan tadi diberikan padaku.” Lanjutnya lagi yang terus melangkah.

“Berarti mereka membawa banyak buku bergambar, ya?” Tanya bocah perempuan lainnya lagi.

Tunggu! Batinku.

Seketika aku berdiri, pandanganku mengekor pada langkah dua bocah perempuan seusiaku yang tengah menaiki tangga taman kota.

“Berarti mereka membawa banyak buku bergambar dong?” Tanyaku pada diri sendiri.

Tanpa pikir panjang, kuikuti langkah mereka.

Deg!

***

Pandanganku masih tertuju di sana. Perempuan itu masih sama, tak banyak Gerakan yang di lakukan, hanya sesekali membetulkan posisi duduk.

“Ayo kita ke sana, Za?” Ajak perempuan yang sedari tadi berdiri sejajar di sampingku. Seketika aku menoleh.

“Kita sudah lama bengong di sini,” Ucapnya lagi, “Capek tahu!” Lanjutnya sedikit protes.

Benar juga apa katamu. Lebih dari lima belas menit kita menunggu di sini tanpa kepastian. “Baiklah.” Jawabku sambil mengangguk.

***

“Ayo ke sini, Dik!” Seru perempuan berjilbab biru tua. Dua bocah perempuan seusiaku berlari mendekat. Dapat kupastikan, kalau kedua temanku itu menampakkan wajah yang sumringah lengkap dengan senyum lebar lima senti. Aku merasakan hal yang sama, tersenyum lebar menatap perempuan berjilbab biru tua itu.

Deg!

Langkahku terhenti dan seketika merasa tidak berdaya untuk kembali melangkah. Apa aku harus ke sana? Mereka ternyata tidak memanggilku, melainkan dua bocah perempuan itu. Pikirku. Pandangaku jatuh di koran-koran yang telah kupeluk sejak pagi tadi.

“Kau juga belum habis.” Lirihku.

Tanpa babibu, langkahku telah kembali pada trotoar taman dan hilir mudik menjajakan koran dari mobil ke mobil, motor ke motor, sampai pejalan kaki yang melintasi tortoar tempatku berjualan.

Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, dengan cekatan tanganku mengetuk kaca mobil lengkap dengan ucapan dan senyuman sebagai pemanis. Aku tahu, apalagi di zaman yang serba canggih ini tak banyak orang yang minat membaca koran, kalau pun membaca berita pasti sudah melalui benda canggih Bernama gadget itu.

“Permisi, beli koran, Pak? Cukup tiga ribu, Pak.”

Seperti biasa, dengan kalimat, nada, intonasi, serta ekspresi yang sama untuk menawarkan koran-koran yang kubawa. Tak jarang pula para sopir mobil, pick-up, truk box, membeli bahkan dengan uang yang lebih. Tapi, untuk hari ini sepertinya jauh berbeda dengan hari-hari yang lalu.

Bangjo Pandanaran yang selalu ramai, tetapi tidak seramai koran-koran yang terjual hari ini.

Aku menghela napas panjang. Melihat sekeliling yang makin bertambah volume kendaraan yang melaju di Pandanaran. Langkahku kembali menuju tepian trotoar, duduk di tangga taman kota sembari menghadap barat yang tak kalah padatnya kendaraan bermotor.

Semakin sore jalanan semakin padat merayap. Di bangjo MH. Thamrin misalnya, sampai terlihat antre panjang. Klakson-klakson berbunyi semakin nyaring dan bersahut-sahutan. Lampu-lampu utama kendaraan menyala semakin terang, ditambah matahari semakin tergelincir menuju cakrawala.

Satu dua lampu penerang jalanan menyala otomatis. Sedangkan langit di ujung barat mulai menampakkan semburat oranyenya. Langit biru di atasku tampak tersirat sedikit warna keemasan. Aku tertegun. Lama sekali, sampai warna langit menjadi semakin merona dengan menampakkan lembayung di tengah kota.

“Mereka sampai kapan ya di Taman Pandanaran?” Tanyaku melihat mereka dari kejauhan. Dua temanku yang sempat kuikuti langkahnya tadi masih di sana, entah hal apa yang sedang dibicarakan dan lakukan, “Apa aku harus ke sana?” Tanyaku lagi pada diri sendiri.

Tin!

Aku terkejut. Mobil pick-up berhenti di sisi kiri jalan. “Nak, beli satu koranmu!” Teriak laki-laki yang tak lain ada supir dari mobil pick-up tersebut. Dengan cekatan dan setengah berlari menuju suara itu.

“Terima kasih, Pak, semoga bermanfaat.” Ucapku penuh tersenyum. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum.

Deg!

Kerumunan yang berisi gelaran buku-buku dan dua temanku sudah tidak di sana. Mereka ke mana? Apa sudah selesai acaranya? Ya, Allah, apa aku terlambat? Batinku. Langkahku kupercepat, koran-koran di dekapanku masih ada. Aku menengok kanan kiri, depan belakang. Nahas, hasilnya nihil. Tak kutemukan keberadaan mereka.

“Hai! Cari siapa?”

Sontak aku terkejut. Perempuan berjilbab biru  tua dengan senyum lebar menyentuh bahuku.

“E-ee-h, tidak.” Balasku tergagap-gagap.

“Kurasa kau mencari sesuatu. Apa ada benda milikmu yang jatuh di sini, Dik?” Lanjutnya lagi dengan tersenyum.

“Aku mencari sesuatu, Mbak.” Jawabku setelah tidak tahu harus mengelak dengan alasan lain.

“Bisa kubantu?” Tawarnya lagi.

“Tadi aku melihat dua temanku membawa buku bergambar, tapi sekarang sudah pergi, kira-kira mereka ke mana, ya, Mbak? Padahal aku ingin sekali melihat-lihat buku bergambar itu.” Jawabku dengan polos.

Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, kecuali dengan mengaku dan jujur dengan perempuan di hadapanku ini.

“Mau baca maksudmu, Dik?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Besok sore ke Taman Pandanaran lagi ya, Dik, nanti bakal ada buku-buku yang Adik maksud. Oh iya, siapa nama Adik?” Sambungnya lagi dengan bertanya.

“Reza. Panggil saja Za, Mbak.” Jawabku sedikit tersenyum.

“Oke, Za. Besok sore ke sini lagi, Za. Sekarang sudah malam, Reza pulang dan istirahat. Oh iya, Mbak beli korannya, ya?”

Seketika senyumku mengembang. Aku senang. Koran-koranku tersisa sedikit. Tak apa, pasti akan berguna setelah ini.

“Terima kasih, Mbak!” Teriakku setelah perempuan berjilbab abu-abu itu melangkah menjauh.

***

Deg!

Aku tertegun. Mulutku berbentuk o-seketika. Aku tak menyangka, perempuan yang kutemui semalam adalah bagian dari yang kuimpikan. Iya, perempuan itu berada di sini, tempat gelaran buku-buku bergambar, yang aku maksud kemarin.

“Itu, Za.” Ucap perempuan itu pada teman lainnya. Seketika semua pasang mata melihat kearahku. “Kemari, Za!” Teriak mereka bersamaan.

Koran-koran hari ini laku keras, masih tersisa dua. Bahkan sebelum langit berwarna oranye. Aku bisa menjualnya nanti setelah melihat buku bergambar. Langkahku setengah berlari. Aku tidak sabar melihat sesuatu yang kuimpikan.

“Silakan dibaca, Dik.” Lelaki yang kuduga seumuran dengan perempuan malam kemarin memersilakanku untuk membaca. Aku mengangguk.

“Kalau yang kamu pegang itu masuknya buku dongeng, Dik. Kamu suka mendongeng? Oh iya, kalau mau dipinjam, monggo, tapi tetap dikembalikan, ya.” Sambung lelaki itu dengan tersenyum. Aku mengangguk tentu dengan senyum paling lebar.

Yes!

***

Sabtu dan Minggu sore selalu kutunggu-tunggu. Bagaimana tidak, jika setiap akhir pekan mereka datang dengan tumpukan buku-buku, berbagai jenis bacaan dan gratis, bahkan bisa kubawa pulang! Ternyata tidak hanya aku saja yang merasa senang, tetapi kedua temanku, Ina dan Eva, dan teman-teman yang lain. Mereka selalu menyempatkan ke sini.

Bisa kukatakan, sore kami di akhir pekan sangat menyenangkan. Selain bisa menjual barang dagangan, juga menambah ilmu pengetahuan melalui membaca buku dan permainan-permainan yang dibawakan Perempuan berkerudung biru tua dan teman-temannya itu. Terkadang, mereka juga mengajari kami menulis puisi, menggambar, dan mewarnai.

Kami sangat senang!

***

Sore yang biasanya hanya mampu kutatap warna keoranyean, bising kendaraan, klakson yang saling bersahutan, kini sedikit berbeda, karena di bawah langit sore Semarang, kami juga mengenal baca, tulis, dan dunia.

“Tapi tak apa, Dik. Mbak masih punya beberapa buku yang masih bisa digunakan untuk belajar. Gakpapa, kan?” ucap Mbak Rena melihat kami.

Kami mengangguk.

“Ada masalah dan kami tidak bisa melanjutkan lagi seperti pekan-pekan yang lalu, Dik. Maafkan Mbak Rena, ya, membuat kalian menunggu sampai sebulan lebih tanpa kabar.” Ucap Mbak Rena lirih. Kami terdiam.

Setelah beberapa pekan sore kami berwarna. Akhirnya terhenti satu bulan lebih. Ada saja hal-hal yang tidak diduga itu datang. Masalah yang sebenarnya jauh dari perkiraanku. Karena terlihat sekali, mereka adalah orang-orang dewasa yang kompak dan menyenangkan. Bahkan, suatu ketika, aku pernah berjanji, di suatu masa akan kubuat hal serupa, seperti mereka yang membuka mataku dengan bacaan-bacaan gratis dan permainan yang menyenangkan.

Mbak Rena mulai membaca buku digenggamannya. Kami bertiga duduk melingkar. Memang tak seseru satu bulan yang lalu. Tapi tak apa, kerinduan kami dengan bacaan bergambar alias dongeng terobati dan Mbak Rena kembali memulainya sore ini.

Mbak Rena, langit sore di bawah Taman Pandanaran telah kembali berwarna. Taman tampak hidup lagi dengan cerita-cerita yang kau bawa. Bahkan, langit-langit kota juga ikut mendengarkan terlihat dari caranya menyapa. Senja hadir dengan keemasannya, riuh tawa baralun klakson kendaraan, hingga senja berbaur dengan lampu jalanan. Terima kasih, Mbak Rena!

Komentar