Refleksi dari Pesan Singkat di Hari Perempuan

Saat hendak mematikan data internet, satu pesan masuk melalui aplikasi Instagram. Aku cukup terkejut, terlebih melihat siapa pengirim pesan tersebut. Salah seorang rekan atau lebih tepatnya mentor fellowship pertengahan tahun lalu. 

"Selamat merayakan dan memaknai hari perempuan, Amal. Semoga hal-hal baik terus tumbuh melingkupi hidup begitu pun dengan mekarnya keadilan di setiap hari-hari yang dijelang, ya!"

Aku membacanya pelan dan berulang kali. Memastikan lagi apakah pesan itu benar-benar untukku, atau memang ada kekeliruan, tapi ada namaku di sana. Rasanya speechless, aku tidak bisa berkata-kata. Aku terharu sambil memikirkan, "Masih ada, ya, orang yang menyampaikan pesan seperti ini. Baik sekali." 

Seusai membaca lagi dengan kondisi lebih tenang, aku merasa seperti dipukpuk. Lega sekali. Aku sadar, ucapan-ucapan semacam itu memang jarang sekali kudapatkan. Kalau diingat-ingat lagi, tentang ucap-mengucapkan atau mengingat suatu perayaan adalah mengucapkan ulang tahun. Itu pun sudah tidak lagi kulakukan usai semakin menipis relasi dan tidak ada timbal balik. Haha, semacam pemikiran, jika kita mengucapkan selamat ulang tahun ke seseorang, niscaya ketika berulang tahun nanti akan mendapat ucapan yang sama. Beberapa memang terjadi, tetapi, lebih banyak tidak.

Parahnya saat itu adalah perasaanku tidak nyaman dengan ucapan-ucapan semacam itu. Diingat-ingat lagi, padahal ucapan-ucapan semacam itu adalah bentuk perhatian dan apresiasi. Hanya saja karena sejak kecil tidak terbiasa menerima, membuat masa-masa remaja dan dewasa ini merasa rikuh, tidak tahu harus merespon seperti apa, bingung, merasa tidak layak, kurang percaya diri, kurang peduli, dan minim self-love. Ternyata seberpengaruh ini, ya? Haha

Kini, aku mulai membiasakan diri dengan menerima ucapan-ucapan tersebut, dari selamat ulang tahun sampai apresiasi-apresiasi. Apapun dengan kondisi yang lapang dan senang, walaupun terkadang ada momen kaget dan terdiam lama.

Masih di perayaan Hari Perempuan Internasional kemarin, salah satu tempatku belajar memahami perempuan juga memberikan apresiasi. Aku suka sekaligus merasa lega. Lagi-lagi diri ini merasa dipukpuk.

"Untuk para relawan konselor, pendamping korban, dan support system, yang selama ini setia berjalan bersama para penyintas. Terima kasih karena telah memilih untuk tetap peduli. Mendengar, menemani, dan menjaga ruang aman. Kerja para relawan mungkin sering terasa sunyi, tetapi dampaknya begitu berarti. Semoga kita juga selalu dikelilingi oleh dukungan, kekuatan, dan harapan."

Ah, rasanya dalam sekali. Aku menangis. Terkadang dalam kondisi kepala yang hampir tepar dengan berbagai pikiran yang belum juga menemui titik temu maupun jalan keluar. Rasa-rasanya apa yang kulakukan hanyalah sia-sia. Tetapi, lewat hal-hal sederhana ini, walaupun sebenarnya juga tidak sesederhana itu, aku merasa diingatkan kembali. Apa yang telah kamu lakukan kemarin, beberapa bulan yang lalu, dan tahun-tahun yang berlalu jauh cukup berarti. Kerja-kerja sosial, relawan, atau semacamnya tetaplah berarti, berdampak. Sekecil apapun itu.

Lain kali atau di kemudian hari aku menemukan dan bertemu hal-hal yang patut diapresiasi, akan kulakukan, walaupun sedikit rikuh dan malu karena belum terbiasa. Semoga aku belajar dari momen kemarin, Hari Perempuan. Pesan singkat yang begitu hidup. Terima kasih, ya.

Komentar