[Saat Kita Cerita Nanti] Tidak Semua yang Kita Kagumi Harus Dimiliki

Apakah kamu pernah di posisi mengagumi seseorang dan ingin sekali memilikinya? Aku pikir hal tersebut bukan sekadar pertanyaan sepele. Beberapa orang akan merespon berbeda-beda, dari penuh semangat, sedih, atau memilih menghindar. Setiap orang memiliki cara dalam merespon perasaan tersebut, termasuk memilih mengungkapkan secara langsung, menyimpan rapat-rapat, dan ada juga yang memilih membiarkan berlalu tanpa melakukan apa-apa.

Aku ingin menggarisbawahi, pengalaman menuju relasi romantis ini ternyata cukup menyadarkan diri pada satu hal yang cukup penting bahwa tidak semua hal yang kita kagumi harus dimiliki. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam proses belajarku ternyata cukup membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa memahami. 

Lucunya, aku pernah dimomen yang membuat diri ingin segera memiliki, termasuk dalam membayangkan kemungkinan-kemungkinan; bagaimana jika kami lebih dekat, bagaimana jika kami memiliki lebih banyak waktu untuk berbincang, atau bagaimana jika suatu hari nanti kami berjalan dalam arah yang sama.

Ternyata yang terjadi saat itu adalah sebaliknya. Kemungkinan-kemungkinan yang tidak terjadi. Bagaimana dengan diriku, perasaanku? Tentu saja tidak nyaman, menyedihkan, dan menyakitkan. Tapi, hidup terus berjalan, kan? Aku memprosesnya cukup lama dan jika boleh meminjam ungkapan Gobind Vasdev, “Adalah yang beriringan dengan kehidupan kita, keseharian.” Pelajaran yang tidak bisa langsung dikuasai dalam satu hari, ternyata lebih dari itu. Ia lahir dari serangkaian pertemuan yang meninggalkan kesan mendalam dalam hidup.

Beberapa bagian dan pengalaman menjadi bahan renungan, beberapa akan terbaca melalui laman ini, dan lainnya mengendap dalam diri. Evaluasi panjang. Dari serangkaian banyak perjumpaan, aku menyadari ada pola yang bisa diperhatikan dalam rasa kagum yang tumbuh; karena kecerdasan, kontribusi, kepedulian pada lingkungan sosial, ketekunan, dan ada pula yang mengajarkan bagaimana tetap menjadi manusia yang hangat di tengah dunia yang serba terburu-buru.

Aku pernah mengagumi seseorang yang begitu tekun belajar dan bekerja untuk isu-isu sosial. Melaluinya, aku belajar bahwa kepedulian bukan hanya soal berbicara, tetapi tentang kesediaan bersama di lapangan, mendekat, dan membersamai warga dalam bentuk paling humanis dan inklusif.

Aku juga pernah mengenal seseorang yang tetap menulis dan berkarya meskipun hari-harinya sedang tidak baik dan banyak tantangan hidup. Lagi-lagi, aku belajar bahwa kreativitas dapat menjadi cara untuk bertahan. Bahkan, ada pula seseorang yang selalu mengingatkan bahwa hidup tidak harus berjalan cepat; lewat percakapan sederhana, rasa ingin tahu, dan ketulusan jauh lebih berharga daripada pencapaian yang dipamerkan.

Aku sempat mengira ketertarikan-ketertarikan tersebut adalah tentang penasaran dan perasaan. Belakangan ada kesadaran tumbuh, yang sebenarnya sedang terjadi adalah proses belajar. Aku tidak hanya tertarik pada sosok, tetapi juga pada nilai-nilai yang dihidupi. Pada titik tersebut cara pandang berubah dan berhenti bertanya, “Bagaimana caranya agar orang ini menjadi bagian dari hidupku?” dan mulai bertanya, “Apa yang bisa kupelajari dari pertemuan ini?”

Semakin bertambah hari semakin menyadarkan, ada orang-orang yang hadir hanya untuk mengajarkan sesuatu. Ia mungkin tidak tinggal, tidak berjalan bersama hingga akhir, bahkan mungkin tidak pernah tahu betapa besar pengaruhnya dalam hidup. Akan tetapi, jejak yang mereka tinggalkan mampu mengubah cara kita memandang dunia.

Perubahan pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Aku menjadi lebih tenang dalam menjalani relasi, tidak lagi terburu-buru memberi makna pada setiap perhatian, tidak mudah kecewa ketika harapan tidak terwujud, dan tidak menganggap setiap kekaguman harus berakhir menjadi kisah romantis. Sebaliknya, mulai menikmati proses mengenal seseorang sebagaimana adanya, natural. Kalau diperbolehkan lagi mengutip salah satu lirik lagu Everything U Are-nya Hindia, “Seada-adanya, sekurang-kurangnya.”

Memang tidak mudah belajar menghargai keberadaan tanpa harus memiliki. Aku belajar menerima bahwa beberapa orang memang hadir untuk menginspirasi, bukan untuk menetap. Melalui kejadian-kejadian semacam ini, ternyata ada yang lebih penting dan sebenarnya secara berulang telah digarisbawahi, hanya saja diri selalu luput dan terlewatkan adalah fokus pada pertumbuhan diri.

Sering kali kita terlalu sibuk memikirkan apakah seseorang akan memilih, sampai lupa bertanya apakah sudah bertumbuh dari pertemuan tersebut. Padahal, nilai terbesar dari  sebuah perjumpaan bukanlah keberhasilan menjadikannya milik kita, melainkan perubahan baik yang terjadi dalam diri. Oleh karena itu, kepada siapa pun yang saat ini sedang mengagumi seseorang, aku ingin mengatakan: tidak apa-apa mengagumi, tidak apa-apa merasa terinspirasi, tidak apa-apa menyukai seseorang karena cara berpikir, sikap, atau nilai hidupnya. Namun, jangan biarkan kekaguman itu membuatmu kehilangan diri sendiri. Biarkan kekaguman menjadi jendela untuk belajar, bukan penjara yang membuatmu terus-menerus menunggu.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa banyak orang yang berhasil dimiliki. Hidup adalah tentang berapa banyak pelajaran yang berhasil kita pahami dan terkadang orang yang tidak pernah menjadi milik kita justru memberikan pelajaran hidup yang paling berharga.

Komentar