[Jalan-jalan] Lorong yang Membawa Pada Perjalanan ke Kota Tua
Seminggu yang lalu, tampilan iklan di Instagram tanpa sengaja menampilkan informasi lomba menulis tentang wisata-wisata di Filipina. Rasa ingin ikut serta namun sudah ditimpa kenyataan belum pernah menginjakkan kaki di negara bekas jajahan Spanyol tersebut membuat goyah. Tetapi, pikiran malah berkelana, bagaimana kalau kita bermanifestasi berkunjung ke Filipina? Ayo.
Sesuatu yang asing bagi saya bukan berarti tidak menyukai, tetapi perlu waktu untuk mencoba membuka jalan ingin tahu. Termasuk tentang negara kepulauan yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia, yaitu Filipina, salah satu negara di Asia Tenggara.
Ah, saya baru ingat, sekitar abad ke-16, Portugis dan Spanyol pernah saling berebut wilayah di Hindia Timur, tepatnya Kepulauan Maluku. Kejadian tersebut tertuang dalam Perjanjian Zaragoza, yang menyebutkan tentang pembagian wilayah dunia di luar Eropa untuk Spanyol dan Portugis. Isi perjanjian tersebut kurang lebih berisi bahwa Meksiko ke arah barat hingga Kepulauan Filipina menjadi milik Spanyol, sementara Portugis mendapatkan wilayah dari Brasil ke timur sampai Kepulauan Maluku.
Apakah ada kemungkinan di Filipina juga terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan Spanyol? Tentu saja hal tersebut harus dicari tahu.
Manila sebagai ibukota negara Filipina ternyata mempunyai tempat bersejarah, yaitu berada di kawasan Kota Tua Intramuros. Saya sempat membayangkan, kalau lokasi tersebut mirip dengan Kota Tua di Jakarta. Namun, bayangan tersebut seketika sirna ketika mesin pencarian Google dan Instagram menunjukkan sebuah benteng kokoh berdiri di tengah kota. Bentuknya memanjang, tetapi ada sisi melengkung seperti lorong pendek yang difungsikan sebagai gapura atau pintu besar. Benteng tersebut dikenal dengan nama Benteng Intramuros, beberapa sumber menyebut dengan arti di antara dinding-dinding, sedangkan sumber lain menyebut kota di dalam benteng. Terdengar sangat menarik.
Benteng yang dibangun sekitar tahun 1589 atas perintah Raja Spanyol Philip II. Benteng Intramuros mempunyai tebal 2,4 meter dengan tinggi 6,7 meter, dikelilingi tembok batu sepanjang 4,5 kilometer dengan total lahan sekitar 64 hektar. Benteng tersebut berbentuk pentagonal yang sekelilingnya dibuat parit. Di masa lampau, di dalam Benteng Intramuros terdapat gereja, istana, sekolah, gedung pemerintahan, dan rumah. Kini, beberapa gereja yang terdapat di kawasan tersebut masih aktif digunakan, begitu juga dengan beberapa bangunan peninggalan lain juga masih difungsikan lagi, seperti sebagai museum. Tak heran jika kawasan Kota Tua Intramuros meraih penghargaan sebagai kota tua terbaik di Asia, The Asia’s Leading Tourist Attraction yang diselenggarakan oleh World Travel Awards pada 2022 lalu di Vietnam.
Membaca informasi tersebut seketika membuat saya teringat dengan Yogyakarta yang juga memiliki pintu gerbang besar sebelum memasuki Alun-alun Kidul. Namanya Plengkung Nirbaya Gading, dikenal masyarakat sebagai gapura pintu masuk wilayah keraton. Plengkung Gading juga memiliki peranan penting pada masa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Rasanya belum puas. Saya masih merasa penasaran dengan kota tua lain di Filipina. Apakah ada? Mungkin. Di Indonesia, kota-kota yang isinya peninggalan masa lalu juga masih ada di beberapa kota. Saya kembali mengetik di kolom pencarian. Adakah tempat sejarah di Filipina yang isinya khusus bangunan-bangunan tua seperti di kawasan Kota Lama yang banyak sekali berdiri bangunan khas Belanda? Ah, tidak, harusnya bangunan khas Spanyol.
Kota Vigan terdapat di Provinsi Ilocos Sur ternyata menyimpan gang-gang yang kanan kirinya berdiri bangunan-bangunan tua kokoh khas Spanyol. Dibangun sekitar abad ke-16 pada masa penajajahan Spanyol. Tidak heran jika kota tersebut tercatat dalam warisan sejarah dunia UNESCO.
Saya kembali penasaran, bagaimana jika kita melihatnya melalui Instagram, agar lebih terasa lagi virtual tur ke masa lalu? Tentu saja. Mengetik Vigan City atau Kota Vigan di mesin pencarian memunculkan banyak foto dan reels terpopuler. Bangunan-bangunan tua dengan warna kecokelatan, merah tua, hijau, dan biru masih tampak segar walaupun telah termakan usia. Bangunan-bangunan tersebut mempunyai ciri khas, seperti pintu-pintu besar, jendela-jendela besar dan memanjang yang rata-rata di depan setiap jendela terdapat balkon, bahkan di beberapa bagian dalam bangunan, langit-langitnya diberi ornamen berupa ukiran khas Eropa. Terlebih jalanan di sekitar kawasan Calle Crisiologo yang dikenal sebagai pusat wisata Kota Vigan masih menjaga keaslian dengan penggunaan paving. Khas sekali dengan Eropa di masa lampau. Beberapa bangunan juga tampak difungsian sebagai kedai, toko, galeri, bahkan museum, sehingga akan semakin menarik wisatawan yang berkunjung, baik lokal maupun mancanegara.
Ternyata orang-orang juga berfoto di jalan yang kanan kirinya berderet bangunan-bangunan tua khas Spanyol, ya. Kata saya menutup tulisan ini.
Esai untuk Writing Competitions PDOT Indonesia 2023 dan meraih 10 Favorite Writing for Philippine Department of Tourism (PDOT) Indonesia 2023.

Komentar
Posting Komentar